Guru PAUD Gowa Ikuti Pelatihan Media Diorama

Penulis: Tony Muhammad | Editor: Syaifudin
Para guru PAUD dan Taman Kanak-Kanak (TK) anggota IGTKI-PGRI Kecamatan Pattallassang, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulsel mengikuti sesi pengarahan media diorama. (Foto: Dok. istimewa)

SUNGGUMINASA, KYAIMENTERI.ID – Sedikitnya 30 guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Taman Kanak-Kanak (TK) anggota Ikatan Guru Taman Kanak-Kanak Indonesia–Persatuan Guru Republik Indonesia (IGTKI-PGRI) Kecamatan Pattallassang, Sungguminasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel), mengikuti pelatihan pengembangan media diorama.

Pelatihan ini dilaksanakan untuk mendukung layanan bimbingan karier anak usia dini.

Ketua IGTKI-PGRI Pattallassang, Gowa, Hj. Hasniah, S.Pd.I mengatakan, pelatihan ini menjadi terobosan penting.

Sebab selama ini pengenalan profesi kepada anak usia dini masih terbatas pada media dua dimensi seperti gambar dan poster.

“Padahal, anak-anak usia dini memiliki karakteristik belajar yang sangat bergantung pada pengalaman konkret dan permainan langsung. Media diorama hadir sebagai solusi inovatif yang memungkinkan anak-anak tidak hanya melihat, tetapi juga menyentuh dan memainkan langsung alat peraga tersebut,” katanya di Gowa, Kamis (10/9/2026).

Hasniah menjelaskan, kegiatan ini melibatkan pembimbing dari tim dosen Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) di Universitas Negeri Makassar (UNM) yang memiliki kepakaran di bidang psikologi pendidikan dan pengembangan media pembelajaran untuk anak usia dini.

Ketua tim FIP UNM, Fitriani Dzulfadhilah, S.Psi., M.Psi menjelaskan, pelatihan ini berawal dari kenyataan di lapangan.

Para guru PAUD Kecamatan Pattallassang masih menganggap bimbingan karier hanya relevan bagi jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

“Pandangan ini menyebabkan pengenalan profesi kepada anak-anak sering kali diabaikan atau hanya dilakukan sekadarnya tanpa metode yang menarik dan sesuai dengan tahap perkembangan anak,” kata dia.

Menurut Fitriani, anak usia dini sebenarnya sudah bisa mulai dikenalkan pada berbagai profesi.

Tujuannya bukan untuk mengarahkan cita-cita mereka sejak dini, melainkan untuk menumbuhkan rasa ingin tahu.

Juga memperkaya wawasan anak tentang dunia kerja yang ada di sekitarnya.

“Pengenalan profesi sejak dini juga dapat membantu anak mengembangkan pemahaman sosial dan menghargai berbagai peran dalam masyarakat,” ujarnya.

“Media diorama kami pilih karena sifatnya konkret, bisa disentuh, dan bisa dimainkan langsung oleh anak lewat permainan peran,” jelasnya.

Dalam pelatihan ini, para guru diperkenalkan pada dua inovasi diorama yang telah memiliki Hak Kekayaan Intelektual (HKI) karya tim dosen FIP UNM.

Pertama adalah PRO-KIDS CARE (Profession Kids Career Exploration), yaitu diorama berbentuk berbagai kompartemen profesi yang memungkinkan anak-anak mengeksplorasi beragam pekerjaan melalui permainan.

Kedua, adalah Media Diorama Mengenal Profesi Guru PAUD, yang secara khusus mengenalkan profesi guru PAUD kepada anak usia dini.

Kedua media ini dirancang dengan pendekatan yang sangat sesuai dengan karakteristik belajar anak usia dini, yaitu belajar sambil bermain.

Melalui diorama, anak-anak dapat melihat miniatur berbagai tempat kerja, tokoh-tokoh profesi, serta alat-alat yang digunakan dalam pekerjaan tertentu.

“Mereka juga dapat bermain peran dengan menggunakan figur-figur yang ada dalam diorama, sehingga pengalaman belajar menjadi lebih bermakna dan menyenangkan,” ungkapnya.

Setelah mendapatkan pemaparan materi, para peserta dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil untuk mempraktikkan langsung pembuatan diorama.

Tim pengabdi memilih pendekatan ini agar para guru tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat segera diterapkan di kelas masing-masing.

Bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan diorama sengaja dipilih yang sederhana, murah, dan mudah ditemukan di sekitar, seperti kardus bekas, impraboard, kain flanel, tanah liat (clay), dan cat akrilik.

Proses pembuatan diorama ini tidak hanya melatih keterampilan teknis para guru, tetapi juga mengasah kreativitas dan kemampuan kolaborasi mereka.

Setiap kelompok bekerja sama untuk menciptakan diorama yang menarik dan edukatif, dengan tema-tema profesi yang berbeda-beda sesuai dengan minat dan kebutuhan masing-masing.

Hasil evaluasi menunjukkan, pelatihan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi para guru PAUD.

Pemahaman mereka tentang penggunaan media diorama untuk bimbingan karier anak usia dini meningkat secara signifikan, dengan rerata skor naik dari 75,3 menjadi 91,3 pada 30 peserta.

Peningkatan skor sebesar 16 poin ini menunjukkan bahwa metode pelatihan yang digunakan, yaitu kombinasi antara teori, praktik langsung, dan pendampingan, sangat efektif dalam mentransfer pengetahuan dan keterampilan kepada para guru.

Selain itu, seluruh kelompok peserta juga berhasil menyelesaikan diorama masing-masing dengan hasil yang memuaskan.

“Seluruh kelompok juga berhasil menyelesaikan dioramanya masing-masing,” kata Fitriani.

Seluruh peserta mengaku ini adalah pengalaman pertama mereka dalam membuat dan menggunakan diorama untuk mengenalkan profesi kepada anak-anak.

Sebelumnya, banyak di antara mereka hanya mengandalkan gambar, poster, atau kunjungan lapangan yang membutuhkan biaya dan waktu lebih banyak. (*)

Bagikan Tulisan Ini