KYAIMENTERI.ID — Ada masa ketika bepergian bukan sekadar menyiapkan tiket, koper, dan dokumen perjalanan. Pada masa pandemi Covid-19 saat itu, ada satu hal lagi yang harus disiapkan, keberanian menghadapi tes Swab Antigen atau PCR (Polymerase Chain Reaction)
Bagi mereka yang sering bepergian menggunakan pesawat, kereta api, atau menghadiri berbagai pertemuan, tes itu menjadi bagian dari rutinitas. Seminggu bisa dilakukan beberapa kali. Lama-lama, jenuh juga.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti pun pernah merasakan kejenuhan itu.
“Meskipun tidak terlalu sering, saya juga mulai jenuh dengan tes Swab Antigen dan PCR. Rata-rata 2-4 kali sepekan. Cukup merepotkan,” ujar Abdul Mu’ti yang akrab disapa Kyai Menteri ini.
Keluhan itu kemudian ia sampaikan kepada seorang teman yang juga sering bepergian. Namun, berbeda dengan dirinya, sang teman itu justru terlihat santai. Tidak tampak kerepotan harus menjalani Swab Antigen atau PCR berulang kali.
Rupanya, teman tersebut memiliki “jaringan” dengan sebuah klinik tertentu.
Untuk urusan Antigen, caranya terdengar sederhana. Beberapa saat sebelum tes, ia menyemprotkan cairan tertentu. Beberapa kali semprotan, hasil tes pun selalu negatif.
Untuk PCR, ceritanya bahkan lebih sederhana.
Tidak perlu datang untuk menjalani tes. Cukup mengirimkan NIK kepada klinik langganan. Satu atau dua jam kemudian, hasil tes sudah diterima melalui WhatsApp.
Lebih hebat lagi, hasil negatif itu juga tercatat di aplikasi PeduliLindungi. Statusnya pun dinyatakan layak bepergian.
Lalu, berapa banyak orang yang memiliki “jaringan” seperti teman tersebut?
Wallahu a’lam.
Kisah itu kemudian membawa Kyai Menteri Mu’ti pada sebuah renungan tentang negeri +62.
Di negeri ini, ternyata selalu ada orang-orang hebat yang mampu menemukan jalan keluar dari berbagai macam “tes”.
Ada yang bisa lolos masuk perguruan tinggi negeri tanpa tes.
Ada pula yang bisa naik pesawat tanpa harus menjalani Swab Antigen atau PCR.
Kok bisa?
Itulah hebatnya orang-orang di negeri +62.
Sebuah kemampuan yang kalau diceritakan mungkin terdengar lucu. Namun, di balik kelucuannya, ada sesuatu yang sebenarnya tidak sederhana: aturan bisa menjadi tidak berarti ketika selalu ada jalan untuk mengakalinya.
Kyai Menteri Mu’ti kemudian mengibaratkannya seperti film Warkop yang dibintangi Dono, Kasino, dan Indro.
“Semua bisa diatur.”
Lucu, memang.
Tetapi kalau benar-benar terjadi, mungkin yang perlu ditanyakan bukan lagi bagaimana bisa lolos tanpa tes, melainkan mengapa tes dan aturan dibuat kalau pada akhirnya bisa diloloskan tanpa tes?
Lucu tapi nyata.
(Disadur dari buku berjudul Guyon Maton karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)









