Dari Tengah Hutan, IFP Membuka Jendela Dunia bagi Siswa SMPN 4 Doplang Satap

Penulis: Gunawan Trihantoro | Editor: Eko Budi Utomo
Guru memaparkan materi pembelajaran visual menggunakan Interactive Flat Panel (IFP) di kelas SMPN 4 Doplang Satap, Blora. Pemanfataan teknologi interaktif ini membantu siswa di wilayah pinggiran hutan mengakses materi pembelajaran berbasis digital secara lebih efektif dan menyenangkan.

BLORA, KYAIMENTERI.ID — Jarak geografis tidak semestinya menjadi batas bagi anak-anak untuk mendapatkan pengalaman belajar yang berkualitas. Pesan itu terasa di SMPN 4 Doplang Satap, sekolah yang berada jauh dari pusat perkotaan dan berada di kawasan hutan.

Sebuah layar besar kini hadir di ruang kelas. Tidak hanya menjadi perangkat baru, Interactive Flat Panel (IFP) mulai mengubah cara guru menyampaikan pelajaran sekaligus cara siswa berinteraksi dengan materi.

Kepala SMPN 4 Doplang Satap, Efan Khairul Amar, mengatakan pemanfaatan IFP membuat suasana pembelajaran menjadi lebih interaktif dan mampu meningkatkan semangat siswa.

“Pembelajaran lebih interaktif, anak-anak lebih semangat dalam pembelajaran,” ujar Efan.

Menurut Efan, keberadaan IFP juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk mencoba secara langsung berbagai materi pembelajaran.

Dari proses tersebut, keberanian siswa untuk bereksplorasi ikut tumbuh.

“Anak-anak juga langsung bisa mencoba dan menumbuhkan keberanian pada diri anak,” katanya.

Perubahan tidak hanya dirasakan siswa. Menurut Efan, guru juga terdorong untuk lebih kreatif dalam mencari bahan pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan dan karakter siswa.

“Guru juga menjadi lebih kreatif dalam mencari bahan pembelajaran,” ujarnya.

Efan menyampaikan apresiasi atas dukungan pemerintah terhadap digitalisasi pembelajaran di sekolah.

Ia secara khusus menyampaikan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo Subianto dan Bapak Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti atas dukungan yang diberikan melalui fasilitas pembelajaran digital ini,” ungkap Efan.

Menurutnya, dukungan tersebut menjadi kesempatan bagi siswa di sekolah yang jauh dari perkotaan untuk merasakan pembelajaran berbasis teknologi.

Ia berharap pemanfaatan IFP dapat semakin merata.

Ke depan, Efan berharap setiap rombongan belajar di SMPN 4 Doplang Satap dapat memiliki IFP sehingga proses pembelajaran berlangsung lebih efektif.

Manfaat teknologi tersebut juga dirasakan dalam pembelajaran IPA.

Guru IPA SMPN 4 Doplang Satap, Siti Nursiami, S.Pd., menilai IFP sangat membantu guru dalam menyajikan materi dengan dukungan berbagai fitur pembelajaran.

“Pembelajaran ini sangat membantu, dengan banyaknya fitur-fitur pembelajaran,” kata Siti.

Salah satu fitur yang menarik perhatian guru dan siswa adalah laboratorium maya. Fitur tersebut memberikan pengalaman visual yang membuat konsep pembelajaran IPA lebih mudah dijelaskan dan dipahami.

“Anak juga menjadi lebih tahu secara visual, bukan hanya dalam teksnya saja,” jelas Siti.

Bagi Siti, pembelajaran berbasis visual memberikan pengalaman yang berbeda bagi siswa. Materi yang sebelumnya hanya dipahami melalui tulisan dapat diperkuat dengan tampilan visual dan simulasi.

Meski demikian, pemanfaatan teknologi juga membutuhkan dukungan konten yang berkelanjutan. Siti berharap semakin banyak fitur pembelajaran yang tersedia dan dapat digunakan secara gratis.

Pengalaman belajar yang lebih interaktif tersebut mendapat respons positif dari siswa. Diana Crois, siswa kelas IX, mengatakan pembelajaran IPA menggunakan IFP terasa lebih menyenangkan.

“Pelajaran IPA menyenangkan belajar dengan menggunakan IFP. Pembelajaran semakin seru dan menarik, dan pembelajaran lebih mudah dipahami,” ujar Diana.

Layar IFP menjadi semacam jendela. Dari sana, siswa dapat melihat simulasi, mengeksplorasi materi, hingga mengenal berbagai sumber belajar tanpa harus meninggalkan ruang kelas.

Pada akhirnya, digitalisasi pendidikan bukan semata soal menghadirkan perangkat modern ke sekolah. Lebih dari itu, teknologi menjadi sarana untuk memperluas kesempatan belajar.

Jarak dari pusat kota boleh jauh. Namun, kesempatan untuk belajar dan berkembang tidak seharusnya ikut menjauh.

Bagikan Tulisan Ini