Tutup Muktamar, Abdul Mu’ti Dorong Nasyiatul Aisyiyah Jadi Mitra Strategis Pencerdasan Bangsa

Penulis: Nashiruddin Amin | Editor: Eko Budi Utomo
Mendikdasmen, Abdul Mu'ti memberikan kuliah umum pada acara penutupan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Dwangsa Solo Hotel, Sabtu (8/8/2026)

SOLO, KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mendorong Nasyiatul Aisyiyah menjadi mitra strategis pemerintah dalam mencerdaskan bangsa. Menurutnya, pendidikan tidak hanya berlangsung di ruang-ruang kelas, tetapi juga tumbuh dari keluarga, masyarakat, hingga organisasi.

Pesan itu disampaikan Abdul Mu’ti saat memberikan kuliah umum bertema Transformasi Pendidikan Inklusif dan Akselerasi Literasi STEM bagi Perempuan Muda pada penutupan Muktamar Nasyiatul Aisyiyah di Dwangsa Solo Hotel, Sabtu (8/8/2026).

Kuliah umum tersebut menjadi salah satu sesi yang ditunggu peserta. Gaya Abdul Mu’ti yang ringan dan sesekali diselingi humor membuat peserta tetap antusias menyimak.

Dalam kesempatan itu, Abdul Mu’ti mengapresiasi Ariati Dina Puspitasari yang dinilainya berhasil membawa Nasyiatul Aisyiyah hingga saat ini tanpa gejolak internal.

Ia juga menyampaikan selamat kepada Monica Subastia yang terpilih sebagai Ketua Umum Pimpinan Nasyiatul Aisyiyah periode 2026–2030.

“Saya mengikuti dengan saksama pidato Ayunda Monica tadi yang luar biasa, yang menggambarkan seorang pemimpin perempuan yang sangat cerdas. Pemimpin yang saya yakin akan membawa NA benar-benar menjadi gerakan perempuan muda yang berkemajuan dan berkontribusi dalam membangun peradaban bangsa,” ucapnya.

Ada satu hal menarik yang kemudian disorot Mu’ti. Menurutnya, Muktamar Nasyiatul Aisyiyah memiliki suasana yang berbeda dibanding muktamar organisasi otonom lainnya. Salah satunya adalah “tim sukses” yang ikut hadir.

“Musababnya, dalam Muktamar NA pesertanya terdiri dari lintas usia, mulai dari balita, anak-anak hingga suami muda,” ucap Mu’ti yang disambut gelak tawa peserta.

Candaan itu sekaligus menggambarkan suasana khas NA sebagai organisasi perempuan muda. Sebagian anggotanya telah menikah dan berkeluarga. Karena itu, ketika mengikuti muktamar, mereka tak selalu datang sendirian. Anak-anak, bahkan suami, ikut menjadi bagian dari rombongan.

Menurut Mu’ti, suasana tersebut menunjukkan keceriaan yang menjadi bagian dari Nasyiatul Aisyiyah. Keceriaan itu pula yang membuat kegiatan organisasi tetap terasa hangat dan penuh semangat.

Dari suasana yang cair itu, Mu’ti kemudian membawa pembicaraan pada persoalan yang lebih serius: pendidikan.

Ia menyebut ketimpangan akses dan kualitas pendidikan masih menjadi tantangan. Karena itu, pemerintah mendorong konsep Broad Based Education, yakni pendidikan yang tidak hanya berlangsung di ruang kelas, tetapi juga melalui jalur informal.

Pendidikan informal, kata dia, dapat tumbuh dari keluarga, masyarakat, lembaga kursus, hingga organisasi seperti Nasyiatul Aisyiyah.

“Anggota Nasyiatul Aisyiyah adalah para ibu bagi anak-anaknya dan guru bagi muridnya. Karena itu, keberadaan Nasyiatul Aisyiyah sangat penting untuk mencerdaskan bangsa,” ujar Mu’ti.

Menurut dia, peran tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan yang tidak berhenti pada proses belajar-mengajar. Guru, misalnya, tidak hanya berperan sebagai agent of learning, tetapi juga agent of civilization.

“Tidak sekadar menjadi agen pembelajaran, tetapi mereka adalah agen dalam membangun peradaban,” ujarnya.

Karena itu, Mu’ti berharap Nasyiatul Aisyiyah dapat menjadi mitra strategis dalam menghadirkan layanan pendidikan yang bermutu dan merata. Termasuk ikut meningkatkan kualitas pendidik dan tenaga kependidikan yang berhubungan langsung dengan peningkatan mutu pendidikan.

Bagikan Tulisan Ini