Ucapkan “Aamiin” Keras Seorang Diri, Kyai Menteri Abdul Mu’ti Dapat Pengalaman Baru di Masjid Birmingham

Penulis: 
(foto-lustrasi)

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, membagikan pengalaman menarik yang dialaminya saat mengikuti program short course di Birmingham, Inggris.

Selama berada di Inggris, Kyai Menteri Abdul Mu’ti yang juga menjabat Sekretaris Umum PP Muhammadiyah ini selalu menyempatkan diri menunaikan Salat Jumat di berbagai masjid yang berbeda. Salah satu yang berkesan baginya adalah saat beribadah di Masjid Gamkul Syarif yang berada di kawasan Birmingham Selatan.

Menurut Kyai Menteri Abdul Mu’ti, ada tiga hal yang membuat masjid tersebut meninggalkan kesan mendalam.

Pertama, lingkungan masjid yang sangat asri dan terawat. Masjid itu memiliki taman yang luas, bersih, dan dipenuhi berbagai jenis bunga yang menebarkan aroma harum semerbak sehingga menciptakan suasana yang nyaman bagi jamaah.

Kedua, masjid tersebut memiliki unit usaha yang terintegrasi dengan kompleks masjid. Terdapat minimarket, pom bensin, serta layanan pemulasaraan dan pelayanan kematian yang memudahkan kebutuhan jamaah dan masyarakat sekitar.

“Semua terintegrasi dengan kompleks masjid sehingga memudahkan untuk memenuhi kebutuhan para jamaah,” ujar Kyai Menteri Abdul Mu’ti.

Hal ketiga yang paling mengesankan adalah kualitas bacaan imam saat Salat Jumat. Suara imam yang merdu dan bacaan yang sangat baik membuat Kyai Menteri Abdul Mu’ti terbawa suasana kekhusyukan salat.

Namun, di balik kekagumannya itu, terjadi peristiwa yang membuatnya tersenyum ketika mengingatnya kembali.

Saat imam selesai membaca Surah Al-Fatihah dan mengucapkan ayat terakhir, “…ghairil maghdubi ‘alaihim waladh-dhallin”, ia spontan mengucapkan Aamiin dengan suara keras sebagaimana yang biasa dilakukan di Tanah Air.

“Saya langsung mengucapkan dengan keras, Aamiin,” kenangnya.

Tak lama kemudian, Kyai Menteri Abdul Mu’ti menyadari bahwa hanya dirinya yang mengucapkan Aamiin dengan suara lantang. Sementara seluruh jamaah lainnya membacanya dengan suara lirih (sirry), bahkan mungkin ada yang tidak terdengar sama sekali.

“Saya sangat terkejut. Ternyata hanya saya yang mengucapkan Aamiin dengan keras,” ujarnya.

Dari pengalaman tersebut, Kyai Menteri Abdul Mu’ti memperoleh pengetahuan baru mengenai keragaman praktik ibadah dalam tradisi Islam. Selama ini ia lebih mengenal perbedaan dalam membaca basmalah, baik secara lirih (sirry) maupun keras (jahr). Namun, di masjid tersebut ia menemukan bahwa bacaan Aamiin juga dipraktikkan dengan cara yang berbeda sesuai mazhab yang dianut jamaah.

“Di masjid yang lain, semua jamaah mengucapkan Aamiin dengan keras dan jelas. Saya baru tahu ada mazhab yang membaca Aamiin dengan sirry,” tuturnya.

Pengalaman sederhana itu menjadi pelajaran berharga bagi Kyai Menteri Abdul Mu’ti tentang kekayaan khazanah fikih dan keberagaman praktik keagamaan di kalangan umat Islam.

“Pengalaman baru. Ilmu baru,” pungkasnya.

(Cerita ini disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)

Bagikan Tulisan Ini