60 Guru SMAN 1 Gowa Ikuti Pelatihan Kompetensi Spiritual untuk Perkuat Karakter Siswa

Penulis: Tony Muhammad | Editor: Budi Supriyantoro
Peserta Pelatihan Pengembangan Kompetensi Spiritual Pendidikan dari kalangan guru pengajar di SMA Negeri 1 Kabupaten Gowa, Sungguminasa, Sulawesi Selatan (Sulsel) berpose bersama usia penutupan Selasa 11 Agustus 2026. (Dok. Toto Wiharjo)

SUNGGUMINASA, KYAIMENTERI.ID – Sejumlah guru di SMA Negeri 1 Kabupaten Gowa, Sungguminasa, Sulawesi Selatan (Sulsel) mendapatkan Pelatihan Pengembangan Kompetensi Spiritual Pendidikan yang diselenggarakan Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar (UNM) sejak Senin (10/8/2026) kemarin.

Wakil Kepala SMAN 1 Kabupaten Gowa, Toto Wiharjo mengatakan bahwa pelatihan pengembangan kompetensi spiritual bagi guru sangat penting dan relevan dengan tugasnya sebagai tenaga pendidik.

“Guru tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam memberikan pengetahuan akademik, tapi juga berperan penting membentuk karakter, nilai, sikap, dan kepribadian siswa,” ujar Toto usai penutupan pelatihan di Gowa, Selasa (11/8) .

Ia menambahkan pelatihan pengembangan kompetensi spiritual guru ini sangat diperlukan dan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kualitas pendidikan.

“Kegiatan ini memberikan kesempatan yang sangat baik bagi para guru untuk memperoleh wawasan, pengalaman, serta keterampilan baru yang dapat diterapkan dalam menjalankan tugas profesionalnya,” ujarnya.

Toto mengungkapkan bahwa tahun ini ada peningkatan jumlah kepesertaan yang mengikuti kegiatan tersebut yakni sebanyak 60 guru dan berlangsung selama dua hari. Materi-materi yang dibawakan juga lebih fokus pada kompetensi spiritual guru.

“Selain ada pembekalan materi juga diselingi dengan tanya jawab, diskusi-diskusi seputar apa saja yang biasanya dihadapi guru dalam proses belajar mengajar dengan peserta didik. Bagaimana penyelesaian kendala di lapangan dan solusi-solusinya,” katanya.

Tingkatkan Kompetensi

Ditempat yang sama, Kepala SMAN 1 Gowa, Islamuddin, mengapresiasi dan menyambut baik kegiatan yang menjadi modal penting bagi pengembangan profesionalisme guru ke depan, khususnya dalam aspek kompetensi spiritual.

“Memberikan kesempatan kepada guru-guru di sekolahnya untuk terus meningkatkan kompetensi diri,” ujarnya.

Islamuddin mengatakan bahwa guru tidak hanya figur bertugas menyampaikan materi pembelajaran, tetapi juga merupakan sosok yang jadi contoh dan teladan bagi para siswanya.

“Pengembangan kompetensi spiritual guru menjadi bagian penting dalam membangun lingkungan pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter dan nilai-nilai positif,” katanya.

Miliki Kematangan Spiritual

Sementara itu, Ketua Tim Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) UNM, H. Ahmad mengatakan bahwa kegiatan ini memberi peluang yang sangat berharga dan perlu diikuti dengan sungguh-sungguh oleh para guru.

“Kompetensi spiritual tidak cukup hanya dipahami sebagai pengetahuan mengenai nilai-nilai spiritual, tetapi perlu diwujudkan dalam sikap, perilaku, cara berinteraksi, serta cara guru menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai pendidik,” katanya.

Menurutnya guru memiliki posisi yang sangat strategis dalam proses pendidikan karena langsung berinteraksi dengan siswa secara intensif. Apa yang dilakukan guru menjadi pembelajaran tersendiri bagi peserta didik.

“Guru yang memiliki kematangan spiritual diharapkan mampu menghadirkan proses pembelajaran yang lebih bermakna, humanis, berkarakter, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya,” katanya.

Menurut Ahmad, guru yang memiliki kompetensi spiritual yang baik, tentu akan lebih mampu menghadapi berbagai dinamika pendidikan di masa depan.

“Di tengah perubahan sosial, perkembangan teknologi, dan kompleksitas persoalan yang dihadapi peserta didik, guru tidak cukup hanya mengandalkan kompetensi pedagogik dan profesional. Guru juga butuh kekuatan internal berupa kesadaran, nilai, integritas, empati, keteladanan, dan kemampuan memberikan makna terhadap profesinya,” ujarnya.

Penerapan di Lingkungan Sekolah

Ia berharap kegiatan kali ini tidak berhenti pada pelatihan semata, namun dapat dilanjutkan melalui praktik dan penerapan dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan sekolah. Para guru juga diharapkan mampu mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh untuk menciptakan suasana pembelajaran yang lebih positif, serta memberikan keteladanan bagi peserta didik.

Ahmad mengungkapkan bahwa dipilihnya SMA Negeri 1 Kabupaten Gowa sebagai laboratorium pengembangan kompetensi spiritual, karena konsisten dan kontinyu menggelar pelatihan selama tiga tahun berturut-turut. Selain pesertanya melibatkan guru sebagai pelatihan Spiritual Teaching, juga kalangan siswa-siswi.

Pelatihan kali ini menghadirkan sejumlah dosen sebagai narasumber di bidang psikologi, pendidikan, dan pengembangan sumber daya manusia UNM, diantaranya Novita Maulidya Djalal, S.Psi., M.Psi., Psikolog; Rezki Eka Wardana, S.Psi., M.Psi.; Nurhidayah, S.Pd., M.Pd., M.Si.; serta Ahmad Habibiy Arafaat Baman, S.Psi., M.Psi. (*)

Bagikan Tulisan Ini