Tinggalkan Pola Lama, SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo Terapkan Pembinaan Siswa Berbasis Spiritualitas

Penulis: Zaki Zain | Editor: Syaifudin
Hari pertama siswa Kelas XII SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo mengikuti program BPIK

SUKOHARJO, KYAIMENTERI.ID — SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo meluncurkan program Bina Pribadi Islami dan Kepemimpinan atau BPIK pada Kamis (3/9/2026.

Program ini menjadi langkah sekolah dalam memperkuat pembinaan peserta didik melalui pendekatan yang lebih Islami, humanis, dan dialogis.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo, Zaenal Arifin, S.Pd.I, mengatakan, BPIK lahir dari evaluasi terhadap pola pembinaan yang selama ini banyak bertumpu pada ketarunaan.

“Selama ini pembinaan siswa lebih banyak berbasis ketarunaan. Itu bagus untuk melatih kedisiplinan, tetapi kami melihat perlu ada sentuhan spiritualitas yang lebih kuat. Karena itu, BPIK hadir untuk membina pribadi Islami sekaligus melatih kepemimpinan siswa,” ujar Zaenal.

Dimulai Pagi Hari

Kegiatan BPIK dimulai sejak pukul 06.30 WIB di halaman sekolah. Para siswa terlebih dahulu mengikuti morning briefing dan motivasi berisi cerita inspiratif untuk membangun semangat serta memberi teladan positif sebelum mengikuti agenda berikutnya.

Setelah itu, mereka mengikuti Eco-School Action atau bakti lingkungan dengan membersihkan area sekolah, menggelar dan menggulung tikar, serta menjaga kebersihan zona lingkungan yang berbeda.

Rangkaian pagi juga diisi dengan self-management checklist. Dalam kegiatan ini, siswa berpasangan untuk saling memeriksa kelengkapan alat dan kesiapan diri.

Sekolah merancang aktivitas sederhana tersebut untuk melatih kejujuran, kepedulian, dan tanggung jawab antarsesama.

Dari Ketarunaan ke Pembinaan Islami

Zaenal menjelaskan, sekolah tidak meninggalkan kedisiplinan. Namun, kedisiplinan tersebut diarahkan agar menjadi proses pembentukan pribadi, bukan sekadar kepatuhan fisik.

Melalui BPIK, peserta didik diajak memahami adab, tanggung jawab, kepedulian sosial, kebersihan lingkungan, kebugaran jasmani, dan kepemimpinan.

Dengan cara ini, pembinaan tidak hanya melahirkan pribadi yang tertib, tetapi juga sadar, peduli, dan berakhlak.

“Anak-anak tetap dilatih disiplin, tetapi pendekatannya lebih membangun kesadaran. Mereka tidak hanya diminta patuh, tetapi juga diajak memahami mengapa adab, tanggung jawab, dan kepemimpinan itu penting,” tambahnya.

Pelatihan Disiplin yang Humanis

Setelah kegiatan pembiasaan pagi, siswa mengikuti olahraga, kesamaptaan, dan latihan kepemimpinan.

Mereka menjalani lari pagi ringan, latihan fisik, permainan kelompok, serta baris-berbaris atau PBB.

Sekolah menekankan bahwa pelatihan disiplin dalam BPIK dilakukan secara humanis. Kedisiplinan tidak dibangun melalui tekanan berlebihan, melainkan lewat pembiasaan, keteladanan, kerja sama, dan suasana yang tetap menyenangkan.

Selain aktivitas fisik, peserta juga mengikuti Tarbiyah Syakhsiyyah atau pembinaan adab Islami.

Dalam sesi ini, mereka mempraktikkan tata cara wudu, adab makan siang, dan shalat Zuhur berjamaah.

Kegiatan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat karakter Muslim dalam kehidupan sehari-hari.

Bangun Budaya Sekolah

Rangkaian BPIK berlanjut dengan peer networking, refleksi, apel, dan pembiasaan antre tertib saat pulang.

Melalui agenda ini, sekolah ingin membangun budaya kebersamaan, keteraturan, dan saling menghargai di lingkungan SMK Muhammadiyah 1 Sukoharjo.

Zaenal berharap BPIK mampu membentuk lulusan SMK yang tidak hanya siap secara keterampilan kerja, tetapi juga matang secara spiritual, emosional, sosial, dan kepemimpinan.

“SMK tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil. Kami ingin siswa juga punya karakter Islami, bisa memimpin dirinya sendiri, peduli kepada orang lain, dan siap menjadi pribadi yang bermanfaat,” pungkasnya. (*)

 

 

Bagikan Tulisan Ini