BLORA, KYAIMENTERI.ID – SMP Islam Terpadu (SMPIT) Mutiara Insan Cepu, Kabupaten Blora, menggelar kegiatan long march tahunan yang diikuti seluruh siswa kelas VII, VIII, dan IX bersama para pengajar. Selain menjaga kebugaran, kegiatan ini menjadi sarana menanamkan empati, rasa syukur, dan kepedulian terhadap sesama.
Kepala SMPIT Mutiara Insan Cepu, Ahmad Sumari, mengatakan kesehatan fisik menjadi salah satu aspek penting dalam pembentukan diri seorang santri. Melalui perjalanan bersama, siswa juga memperoleh pengalaman belajar di luar kelas.
“Santri harus sehat secara fisik. Melalui kegiatan long march ini, anak-anak tidak hanya berolahraga, tetapi juga mendapatkan pengalaman baru selama perjalanan,” kata Sumari di ruang kerjanya, Kamis (15/10/2026).
Rute perjalanan dimulai dari Desa Cabean, kemudian melewati Kentong, Tambakromo, Balun, Nglanjuk, Sumberpitu, Getas, hingga Kapuan sebelum kembali ke Cabean.
Sepanjang perjalanan, para siswa menyusuri jalan kampung dan hamparan persawahan serta berinteraksi dengan warga.
Menurut Sumari, pengalaman tersebut menjadi kesempatan bagi siswa untuk belajar menyapa, menghormati, dan menghargai orang lain. Interaksi langsung dengan masyarakat juga diharapkan membuat mereka lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Alumni STAIN Surakarta itu menjelaskan, salah satu tujuan utama kegiatan ini adalah menumbuhkan rasa syukur. Siswa diajak melihat kehidupan dari sudut pandang yang lebih luas sehingga tidak mudah menganggap remeh hal-hal yang telah mereka miliki.
“Dengan long march ini, kami berharap ada rasa syukur dalam diri anak-anak. Kami juga ingin menumbuhkan empati dan sikap saling menghargai,” ujarnya.
Sumari menambahkan, kekuatan seorang muslim tidak hanya tercermin dari kemampuan fisik, tetapi juga dari karakter dan kepedulian terhadap sesama. Karena itu, kegiatan berjalan kaki bersama menjadi salah satu cara sekolah menanamkan nilai-nilai tersebut melalui pengalaman nyata.
Kegiatan ini juga memberi manfaat bagi masyarakat di sepanjang rute. Sejumlah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mendapat tambahan pembeli ketika para siswa singgah untuk membeli dagangan mereka.
Dengan demikian, long march tidak hanya menjadi sarana olahraga dan pendidikan karakter, tetapi juga menghadirkan manfaat ekonomi sederhana bagi warga.
“Harapan kami, anak-anak menjadi sehat karena long march ini juga merupakan olahraga. Muslim yang kuat itu lebih dicintai daripada muslim yang lemah. Selain itu, kami berharap tumbuh empati dan sikap saling menghargai dalam diri mereka,” pungkasnya
ri mereka,” pungkasnya. (*)









