Kisah Laura, Perempuan Timor Leste yang Selesaikan Profesi Apoteker di UMPP

Penulis: K Hayat | Editor: Eko Budi Utomo
Laura, Perempuan Timor Leste yang Selesaikan Profesi Apoteker - Foto: UMPP untuk kyaimenteri.id

Momen kelulusan Laura juga disaksikan langsung keluarganya. Sang ibu, kakak, adik, dan seorang keponakannya datang dari Timor Leste ke Pekalongan untuk mengikuti prosesi sumpah profesi.

Kakak Laura, Vanessa Sprianto, mengatakan keluarga sempat merasa khawatir ketika Laura memutuskan berangkat ke Indonesia untuk melanjutkan pendidikan.

“Dari pertama kita bilang, tidak tahu ini bisa sukses atau bisa sampai di titik ini atau tidak. Tapi dari doa kita semuanya, pencapaian itu akhirnya bisa terwujud,” kata Vanessa.

Jarak yang jauh dari rumah membuat keluarga terus memikirkan kondisi Laura selama berada di Indonesia.

“Setiap hari kita sekeluarga sangat khawatir, tapi perjuangan dia sangat luar biasa bagi kita,” ujarnya.

Kini, kekhawatiran tersebut berubah menjadi kebanggaan setelah Laura berhasil menyelesaikan pendidikan profesi apoteker.

“Kita sekeluarga sangat berterima kasih dan sangat bangga atas pencapaian Laura,” katanya.

Laura mengetahui UMPP dari seorang teman. Ia kemudian mengikuti proses seleksi secara online hingga akhirnya diterima di Program Profesi Apoteker.

Pendidikan tersebut dijalaninya dengan biaya sendiri. Sebelum melanjutkan pendidikan di Pekalongan, Laura juga telah bekerja di Timor Leste.

Setelah menyelesaikan pendidikan, Laura berencana kembali ke Dili. Ia berharap dapat bekerja di bidang klinis, khususnya di rumah sakit.

“Kalau ditanya jujur, saya maunya di klinik atau rumah sakit. Tapi di sana kita tidak tahu nanti tesnya bagaimana, diterima atau tidak,” ujarnya.

Wakil Dekan 2 Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP, Istiaroh, mengatakan Laura sempat menghadapi kendala dalam proses pengurusan visa belajar.

Selama berada di Pekalongan, Laura juga mendapatkan pendampingan dari dosen dan mahasiswa untuk membantu proses adaptasi dengan lingkungan baru.

“Laura diberikan pendampingan dari dosen maupun mahasiswa yang berasal dari Indonesia untuk proses adaptasi, termasuk pengenalan budaya dan adat istiadat masyarakat Pekalongan,” kata Istiaroh.

Menurut Istiaroh, keberadaan Laura menjadi bagian dari pengalaman pendidikan yang mempertemukan mahasiswa dengan latar belakang budaya dan keyakinan yang berbeda.

Usai prosesi sumpah profesi, Laura bersiap kembali ke Dili, membawa bekal ilmu sekaligus pengalaman berharga selama menjalani pendidikan di Pekalongan.

 

Bagikan Tulisan Ini