BANYUMAS, KYAIMENTERI.ID – Debu yang beterbangan hingga keterbatasan air mulai dirasakan warga SMA Negeri Banyumas. Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kondisi itu mendorong sekolah menggelar Salat Istisqa di lapangan sekolah, Jumat (2/10/2026).
Salat untuk memohon turunnya hujan tersebut diikuti siswa, guru, tenaga kependidikan, serta warga sekitar.
Pengawas PAI Siti Nur Hidayati mengatakan Salat Istisqa dapat menjadi sarana memohon hujan sekaligus mengingatkan warga sekolah tentang pentingnya menjaga lingkungan.
“Salat Istisqa merupakan ikhtiar kita memohon kepada Sang Pemilik jagad raya agar menurunkan hujan. Namun lebih dari itu, kegiatan ini semestinya menjadi momentum membangun kesadaran bahwa manusia memiliki tanggung jawab moral dalam menjaga keseimbangan lingkungan,” kata Inung.
Inung berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada doa, tetapi dilanjutkan dengan kepedulian terhadap lingkungan.
“Ini dapat menjadi bagian dari ekoteologi yang mengedepankan cinta lingkungan sekaligus memenuhi kebutuhan spiritual manusia,” ujarnya.
Kepala SMA Negeri Banyumas Erlin Retno Viyanti mengatakan dampak kemarau mulai terasa di lingkungan sekolah.
Debu yang beterbangan membuat sebagian siswa mengeluhkan flu, batuk, dan pilek.
Keterbatasan air juga menyulitkan perawatan tanaman dan lingkungan hijau sekolah.
“Kami berharap apabila Allah SWT menurunkan hujan dan lingkungan kembali subur, seluruh warga sekolah tetap menjaga dan merawatnya sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT,” ujarnya.
Kepala KUA Kecamatan Banyumas Nastholih dan Pengawas Pendidikan Agama Islam (PAI) Siti Nur Hidayati turut hadir.
Nastholih memberikan penjelasan tata cara Salat Istisqa sebelum pelaksanaan. Eko Widodo bertindak sebagai imam, sedangkan Siswandi menyampaikan khotbah.
Guru PAI SMA Negeri Banyumas Slamet mengatakan keterlibatan siswa dalam Salat Istisqa sekaligus menjadi pembelajaran kontekstual. Siswa dapat melihat langsung dampak keterbatasan air terhadap kesehatan, kenyamanan belajar, tanaman, dan lingkungan sekolah.









