JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Semangat membangun Muhammadiyah dari tingkat akar rumput mengemuka dalam pengukuhan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Pejaten Barat periode 2026–2031. Ketua PRM Pejaten Barat, Hajriyanto Y. Thohari, menyatakan optimistis ranting yang dipimpinnya mampu berkembang menjadi kekuatan dakwah dan pemberdayaan masyarakat sekaligus berkontribusi membesarkan Muhammadiyah di Jakarta.
Optimisme tersebut disampaikan mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Lebanon itu usai pengukuhan PRM Pejaten Barat yang dirangkaikan dengan Pengajian Ahad Pagi di Aula Sutrisno Bachir, Sekolah Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Prof. DR. HAMKA (UHAMKA), Jalan Buncit Raya, Jakarta Selatan, Minggu (28/6).
Acara tersebut dihadiri jajaran Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Pasar Minggu, Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Jakarta Selatan, Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DKI Jakarta, Lurah Pejaten Barat, serta Camat Pasar Minggu.
Politisi Partai Golkar itu mengungkapkan, PRM Pejaten Barat saat ini memiliki sekitar 41 anggota aktif. Namun, menurutnya, jumlah tersebut baru sebagian kecil dari potensi warga Muhammadiyah yang berada di wilayah Pejaten Barat.
“Untuk sementara anggota ada 41 orang, tetapi belum semuanya bergabung. Masih ada istri, anak, dan keluarga yang belum menjadi anggota. Kalau seluruh warga Muhammadiyah di Pejaten Barat kita gerakkan bersama, saya yakin jumlahnya bisa mencapai ratusan,” ujar mantan anggota DPR RI empat periode ini.
Ia menambahkan, keberadaan warga Muhammadiyah di Pejaten Barat sebenarnya cukup banyak sehingga menjadi modal besar untuk mengembangkan organisasi di tingkat ranting.
Meski hanya berada pada level ranting, mantan Wakil Ketua MPR RI ini menegaskan PRM Pejaten Barat akan menjalankan program-program yang berdampak luas bagi masyarakat.
“Walaupun kelihatannya hanya ranting, nanti yang akan kita kerjakan adalah program-program besar. Kita ingin membuktikan bahwa Jakarta merupakan tanah yang subur bagi berkembangnya Muhammadiyah,” katanya.
Menurut Hajriyanto, perkembangan Muhammadiyah tidak lepas dari visi besar pendirinya, KH Ahmad Dahlan, yang menanamkan benih gerakan Islam berkemajuan ke berbagai daerah di Indonesia hingga mancanegara.
Ia mengibaratkan pertumbuhan Muhammadiyah sebagaimana digambarkan dalam Surat Al-Fath ayat 29, yakni sebuah benih yang tumbuh kuat, berkembang, dan memberi manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
“KH Ahmad Dahlan membangun Muhammadiyah dari sebuah surau kecil di Kauman, Yogyakarta. Dari sana Muhammadiyah berkembang hingga mampu membangun peradaban besar seperti sekarang,” ungkapnya.
Saat ini, lanjut Hajriyanto, Muhammadiyah telah memiliki sekitar 172 perguruan tinggi, ribuan sekolah, rumah sakit, serta berbagai amal usaha yang tersebar di seluruh Indonesia.
“Kalau KH Ahmad Dahlan bisa hidup kembali hari ini, mungkin beliau akan takjub melihat perkembangan Muhammadiyah,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap PRM Pejaten Barat dapat bersinergi dengan ranting-ranting Muhammadiyah lainnya untuk memperkuat dakwah, pelayanan sosial, dan pemberdayaan masyarakat melalui berbagai program strategis.
“Kita punya Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC), Lazismu, Majelis Lingkungan, dan berbagai majelis lainnya. Semua itu harus menjadi kekuatan bersama dalam mengembangkan Muhammadiyah dan memberi manfaat bagi masyarakat,” katanya.
Diisi Tokoh Berpengalaman
Pengurus PRM Pejaten Barat periode 2026–2031 diisi oleh sejumlah tokoh yang memiliki pengalaman panjang di bidang pemerintahan, diplomasi, media, hingga organisasi sosial.
Susunan kepengurusan tersebut meliputi:
• Ketua: Hajriyanto Y. Thohari (mantan Duta Besar RI untuk Lebanon).
• Wakil Ketua: Heri Sucipto (mantan Staf Khusus Kapolri dan mantan Staf Wakil Presiden Jusuf Kalla).
• Wakil Ketua: Andi Nurpati Baharuddin (mantan Komisioner KPU).
• Sekretaris: Wajid Fauzi (mantan Duta Besar RI untuk Suriah).
• Bendahara: Nasyith Majidi (mantan jurnalis senior Republika, pendiri ECONIT, dan Ketua Yayasan Dompet Dhuafa).
• Penasihat: Saleh Husin (mantan Menteri Perindustrian).
Menanggapi komposisi kepengurusan yang juga melibatkan tokoh berlatar belakang partai politik, Hajriyanto menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka terhadap siapa pun yang memiliki komitmen untuk bekerja membesarkan organisasi.
“Boleh. Di tingkat ranting yang terpenting adalah mau bergabung, bersedia bekerja, dan berkontribusi. Berasal dari partai politik boleh, tidak berasal dari partai politik juga boleh,” tegasnya.
Menurutnya, keterbukaan tersebut menjadi bagian dari semangat Muhammadiyah sebagai gerakan dakwah yang menghimpun berbagai potensi umat demi kemajuan organisasi dan kemaslahatan masyarakat. (*)









