PANGKAJENE KEPULAUAN, KYAIMENTERI.ID – Guru di Pulau Salemo, Kabupaten Pangkajene Kepulauan, Sulawesi Selatan, mendapat pendampingan mengembangkan pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan peserta didik, khususnya memanfaatkan potensi lingkungan pesisir sebagai sumber belajar, Kamis (10/9/2026).
Mereka didampingi akademisi Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Makassar melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM).
Para guru yang berjumlah 30 orang tersebut berasal dari empat sekolah, masing-masing 2 SD Negeri, SMP Swasta (SMPS) dan SMAS PGRI.
Sekolah-sekolah tersebut merupakan binaan Kemendikdasmen, terletak di gugusan pulau-pulau pesisir terluar berjarak 50 kilometer dari Desa Mattiro Bombang, Kecamatan Liukang Tupabbiring Utara, Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan, Sulawesi Selatan (Sulsel).
Wakil Kepala SMAS PGRI Pulau Salemo, Muhammad Arif mengatakan, para guru dari keempat sekolah tersebut menggelar “Community Service“, didampingi tim dari akademisi Unismuh Makassar.
“Banyak pengetahuan baru kami dapat terkait potensi di daerah pesisir yang bisa dikembangkan, dengan keterbatasan fasilitas yang ada,” ujarnya, Sabtu (12/9/2026).
Selama ini, lanjut Arif, proses belajar mengajar hanya terfokus pada buku teks yang ada. Belum menyentuh pengembangan pembelajaran diluar aturan akademik yang baku.
“Melalui kegiatan tersebut, dapat menambah wawasan kami sebagai guru, khususnya pengembangan metode ajar yang bisa diterapkan ke siswa-siswi di daerah pesisir. Misalnya memberdayakan potensi wisata. Guru-guru juga sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut,” jelasnya.
Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber yang juga akademisi Unismuh Makassar, Eny Syatriana dan Ratnawati.
Eny mengungkapkan, program ini berupa pengembangan pembelajaran kontekstual berbasis potensi dan permasalahan lingkungan pesisir.
Program tersebut didasarkan fakta bahwa kawasan pesisir memiliki kekayaan lingkungan, sosial, budaya, dan ekonomi yang dapat diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran.
Ia mangungkapkan, konteks lokal seperti ekosistem laut, mangrove, aktivitas nelayan, sampah laut, abrasi, dan konservasi belum sepenuhnya dimanfaatkan sebagai bagian dari proses belajar.
Melalui pendekatan Coastal Innovative Learning (CIL), lingkungan pesisir ditempatkan sebagai “laboratorium belajar” bagi siswa.
Menurut Eny, program ini memusatkan perhatian pada peningkatan kapasitas guru.
Guru merancang pembelajaran kontekstual yang berangkat dari potensi dan persoalan lingkungan pesisir, mengembangkan perangkat ajar, media digital, Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD), dan kegiatan berbasis proyek.
“Meliputi pelatihan, workshop penyusunan perangkat ajar, praktik pembelajaran, hingga pendampingan implementasi di kelas,” katanya.
Melalui tahapan tersebut, lanjut Eny, siswa diharapkan tidak hanya memahami materi pelajaran, tetapi juga mampu mengenali persoalan, melakukan penyelidikan, bekerja secara kolaboratif, dan menghasilkan aksi yang berkaitan dengan lingkungan pesisir.
“Masalah sampah laut, tidak hanya dibicarakan sebagai persoalan lingkungan. Isu itu dapat diolah menjadi bahan observasi, diskusi, pengumpulan data, penyusunan solusi, hingga proyek kampanye atau aksi lingkungan oleh siswa,” ujarnya.
Sama halnya dengan abrasi, mangrove, kehidupan nelayan, dan budaya masyarakat pesisir, dapat dihubungkan dengan berbagai mata pelajaran, sesuai konteks pembelajaran.
“Pendekatan ini diharapkan memperkuat literasi, kreativitas, kemampuan berpikir kritis, dan kepedulian siswa terhadap lingkungannya,” ungkapnya.
Selain dampak langsung bagi sekolah mitra, program juga diarahkan menghasilkan luaran akademik berupa artikel pengabdian, publikasi media, dokumentasi video, serta peluang Hak Kekayaan Intelektual terhadap modul maupun model pembelajaran yang dikembangkan. (*)









