KARANGANYAR, KYAIMENTERI.ID – Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Ahmad Dahlan Rais mengingatkan kader Muhammadiyah agar tidak mencampuradukkan kepentingan dakwah dengan politik praktis maupun bisnis.
Menurut dia, pergeseran orientasi dapat menjauhkan persyarikatan dari khitah gerakan.
Pesan tersebut disampaikan Dahlan dalam Upgrading Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah se-Soloraya di Karanganyar, 12–13 September 2026.
“Muhammadiyah itu adalah gerakan Islam, dakwah amar makruf nahi mungkar, dan tajdid, bukan organisasi politik atau wadah bisnis semata,” tegasnya.
Dahlan Rais mengatakan dakwah, politik, dan bisnis memiliki orientasi yang berbeda.
Dakwah berfokus pada pembinaan umat, politik berkaitan dengan kekuasaan, sedangkan bisnis berorientasi pada keuntungan.
“Orientasi dakwah murni untuk membimbing umat, sementara politik berorientasi pada kekuasaan dan bisnis berorientasi pada profit,” ujarnya.
Karena itu, warga Muhammadiyah diminta waspada terhadap kepentingan praktis yang berpotensi menggeser orientasi persyarikatan.
Menurut Dahlan, pencampuran kepentingan tersebut dapat memengaruhi marwah dan arah gerakan.
Ia juga mengingatkan keteladanan tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KH Ahmad Dahlan, Ki Bagus Hadikusumo, dan AR Fachruddin dalam menjaga konsistensi gerakan.
Dahlan Rais menilai kepemimpinan Muhammadiyah ke depan perlu memiliki cara pandang strategis dan komprehensif.
Prinsip tajdid juga harus tetap menjadi pijakan agar persyarikatan tidak terjebak dalam pragmatisme yang mengorbankan kepentingan umat.
Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bagi kader bahwa penguatan organisasi tidak hanya membutuhkan kemampuan mengelola persyarikatan, tetapi juga keteguhan menjaga orientasi gerakan.









