TAKALAR, KYAIMENTERI.ID — Pemanfaatan Rapor Pendidikan, menjadi salah satu pembahasan dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penguatan Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) yang diikuti sekitar 30 guru dan kepala sekolah dari enam sekolah dasar (SD) di Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan.
Menurut Kepala UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang, Siswaty M, Rapor Pendidikan yang dirilis setiap tahun dapat menjadi bahan evaluasi sekolah untuk melihat kondisi masing-masing. Perkembangan capaian dari tahun ke tahun menjadi bagian penting dalam melihat kinerja sekolah, bukan hanya melihat “warna” atau kategori yang muncul.
“Jadi bukan karena dia warna hijau semua itu standar, tetapi progres grafik peningkatannya,” kata Siswaty di Takalar, Sabtu (19/9/2026).
Menurut Siswaty, setiap sekolah memiliki kondisi yang berbeda sehingga langkah perbaikannya pun tidak dapat disamaratakan.
“Kalaupun misalnya di literasi sama-sama menurun, tetapi ada akar masalahnya sekolah A dengan sekolah B yang tidak sama,” ujarnya.
Ia mencontohkan, persoalan literasi di satu sekolah dapat disebabkan teknik pembelajaran. Sedangkan di sekolah lainnya bisa soal ketersediaan buku atau sarana pendukung pembelajaran.
Untuk itu, hasil Rapor Pendidikan perlu dibaca lebih jauh dalam menemukan akar masalah sebelum sekolah menentukan program perbaikan.
Siswaty mengungkapkan, kegiatan tersebut diikuti sekolah-sekolah penerima Bantuan Operasional Sekolah (BOS) Kinerja terbaik, selain BOS Reguler yang selama ini diberikan.
“Penerima BOS Kinerja bersifat selektif kepada sekolah berprestasi. Misalnya sekolah penggerak atau sekolah dengan peningkatan rapor mutu yang baik,” ungkapnya.
Penggunaan BOS Kinerja disesuaikan dengan karakteristik sekolah untuk pengembangan talenta, digitalisasi, atau penguatan pembelajaran.
Dukungan dimanfaatkan sekolah untuk menunjang program peningkatan mutu, termasuk peningkatan kompetensi guru dan tenaga pendidik melalui pelatihan maupun bimbingan teknis.
Dalam kegiatan tersebut, terdapat delapan Standar Nasional Pendidikan yang menjadi bagian dari pemahaman peserta.
Materi disampaikan instruktur yang telah mengikuti Training of Trainers (TOT) dari Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Kemendikdasmen.
Abdul Muin sebagai instruktur mengatakan, peserta mendapatkan penguatan mengenai SPMI Satuan Pendidikan, termasuk memahami kembali standar pendidikan yang menjadi dasar pelaksanaan penjaminan mutu.
“Pemenuhan standar pendidikan merupakan batas minimal yang harus dicapai,” kata Muin.
Setelah materi SPMI, kegiatan membahas penguatan literasi dan numerasi serta penguatan penggunaan teknologi.
Kegiatan dilanjutkan dengan pendampingan untuk melihat penerapan materi yang telah diperoleh peserta di sekolah masing-masing.
Pelaksanaan kegiatan bergilir di enam sekolah sejak Jumat hingga Selasa (18-23/9/2026), dimulai UPT SD Negeri 1 Centre Pattallassang.
Kemudian dilanjutkan UPT SD Negeri 150 Inpres Tamalalang, UPT SD Negeri 9 Bone-bone, UPT SD Negeri 8 Tamasongo, UPT SD Negeri 24 Takalar II, dan UPT SDN 3 Pattallassang.
“Sekolah diharapkan semakin mampu menjadikan SPMI sebagai bagian dari budaya kerja, bukan sekadar kegiatan administratif,” kata Muin. (*)









