Di UMS, Bachtiar Tekankan Transformasi Digital bagi Kader Ulama Muhammadiyah

Penulis: Nashiruddin Amin | Editor: Syaifudin
Ketua MPKSDI PP Muhammadiyah, Bachtiar Dwi Kurniawan, memberikan Stadium General di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran UMS, Ahad (6/9/2026)

SUKOHARJO, KYAIMENTERI.ID —  Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), menggelar Stadium General di Sukoharjo, Ahad (6/9/2026).

Kegiatan tersebut mengangkat tema “Perkaderan di Era Society 5.0: Melahirkan Kader Ulama yang Adaptif, Inovatif, dan Berorientasi pada Transformasi Sosial.”

Acara ini menghadirkan Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A.,

Stadium General ini menjadi bagian dari agenda Pondok Shabran dalam menyambut dimulainya tahun perkuliahan baru.

Ketua Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI), Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., M.P.A, mengaku bahagia dapat bertemu dan berdialog langsung dengan para kader Muhammadiyah di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran.

Bachtiar Dwi Kurniawan menyampaikan materi mengenai tantangan dan arah perkaderan Muhammadiyah di era Society 5.0.

Dalam kesempatan tersebut, Bachtiar juga membagikan pengalaman perjalanannya selama berproses sebagai kader Muhammadiyah.

Selama Kuliah Aktif di IMM

Ia menceritakan masa-masa ketika masih aktif sebagai mahasiswa dan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM).

Semasa menempuh pendidikan di perguruan tinggi, Bachtiar aktif berorganisasi di IMM.

Dalam proses perkaderannya, ia bahkan sempat menjalani kehidupan berpindah-pindah tempat, mulai dari tinggal di masjid, kos, hingga akhirnya menetap di pesantren mahasiswa.

Dalam keseharianya, Bachtiar menjelaskan, ia memiliki kebiasaan membaca buku minimal 200 halaman dalam sehari. Bahkan, ia akan merasa pusing jika tidak membaca.

“Saya tidak takut buku, semua saya baca, dari buku komunisme, kapitalis, buku kanan,kiri atas dan bawah saya baca” kata Bachtiar.

Moral dan Mentalitas Tak Tergantikan AI

Bachtiar memproyeksikan adanya kader digital dalam menghadapi Era Society 5.0 yang memiliki wawasan keagamaan dan keterampilan memahami ilmu alat.

“Pondok kader harus dibekali dengan wawasan, keterampilan dan soft skill: militan, komunikatif, public speaking,” ujarnya.

Ia melanjutkan, pada era sekarang, kepakaran akan hilang. Keilmuan ustadz, kader dan para pakar akan tergantikan dengan AI.

Akan tetapi, meskipun dapat digantikan, tetapi moral, mentalitas dan budi pekerti tidak dapat diajarkan oleh AI. Kader harus memiliki keduanya, wawasan dan budi pekerti.

Di sisi lain, Bachtiar juga menyoroti globalisasi di Era Society 5.0. Bahasa menjadi jembatan penghubung dakwah Islam dan Kemuhammadiyahan.

Ia membandingkan dengan pelajaran Romo di Italia yang menguasai banyak bahasa untuk dakwah mereka.

“Bahkan mereka menguasai Arab. Kader harus bisa go internasional, setidaknya Bahasa Arab dan Inggris,” ujar Bachtiar.

Beri Motivasi untuk Mahasantri

Pondok Shabran, memang  memiliki tradisi menghadirkan tokoh dan jajaran struktural Muhammadiyah untuk memberikan pandangan serta motivasi kepada para mahasantri. Kegiatan ini dilaksanakan setiap awal periode perkuliahan.

Kegiatan diawali dengan penyambutan Bachtiar oleh para Mahasantri Shabran di depan gedung baru Pondok Shabran.

Dalam penyambutan tersebut, para mahasantri mengenakan seragam berbagai Organisasi Otonom (Ortom) Muhammadiyah.

Kegiatan secara resmi dibuka oleh Mudir Pondok Hajjah Nuriyah Shabran, Yayuli, S.Ag., M.P.I.

Sebagai pengantar, Yayuli  mengungkapkan, Mahasantri Shabran berjumlah 186 orang yang terdiri dari S1 dan S2 dari berbagai daerah.

Mondok Lima Tahun di Pondok Shabran

Ia menjelaskan, Mahasantri Shabran menempuh pendidikan selama lima tahun di Pondok Shabran, satu tahun pertama fase i’dad lughawi.

“Mereka harus menerapkan Bahasa Arab dalam kehidupan sehari hari dan hafal 10 juz dalam satu tahun pertama,” ujar Yayuli.

Mahasantri Shabran, lanjut Yayuli, adalah para kader yang didedikasikan untuk kepentingan Muhammadiyah dan Indonesia kedepannya.

Sebagai bukti, banyak alumni Shabran kini yang telah menjabat di berbagai jabatan penting di Muhammadiyah dan Indonesia.

“Menjadi kader adaptif dan solutif bagi umat. Dan harapannya menjadi wajah Muhammadiyah dan Indonesia ke depannya,” ujarnya. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini