SLEMAN, KYAIMENTERI.ID – Program digitalisasi pendidikan mulai dirasakan di sejumlah sekolah. Salah satunya di SMP Muhammadiyah 3 Depok, Sleman, Yogyakarta (Mugadeta).
Penggunaan fasilitas smartboard (papan tulis pintar) yang diberikan pemerintah menjadi babak baru bagi sekolah dalam menciptakan pembelajaran yang lebih interaktif dan menyenangkan.
Guru Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PKn) SMP Muhammadiyah 3 Depok, Rizkon Nada, S.Pd., mengatakan kehadiran teknologi tersebut memberikan dampak positif terhadap penyampaian materi di kelas. Hal itu disampaikannya pada Selasa (11/8/2026).
“Menurutku cukup membantu dan membuat proses pembelajaran lebih menarik. Dengan adanya smartboard, materi bisa ditampilkan lebih variatif, misalnya melalui gambar, video, atau media interaktif,” ujar Rizkon.
Papan pintar ini juga membuat visualisasi yang lebih jelas membuat siswa lebih mudah fokus. Meski demikian, guru tetap memegang peran utama sebagai pengarah materi agar pembelajaran berjalan efektif.
Semangat Gotong Royong Antarguru
Transformasi menuju pembelajaran berbasis digital membutuhkan proses penyesuaian. Rizkon mengakui, pada awal penerapannya tidak semua guru langsung terbiasa, terutama mereka yang sebelumnya lebih banyak menggunakan media pembelajaran konvensional.
Tantangan tersebut diatasi melalui budaya kerja sama di lingkungan sekolah. Para guru saling mendampingi rekan sejawat yang masih belajar, sekaligus mempraktikkan penggunaan smartboard dalam pembelajaran.
Selain mengikuti pengenalan dan pelatihan formal, para guru Mugadeta juga aktif belajar secara mandiri. Mereka rutin berbagi pengetahuan mengenai fitur-fitur baru yang dikuasai.
Semangat gotong royong tersebut membuat proses adaptasi teknologi berjalan lebih cepat. Guru tidak harus belajar sendiri, tetapi bisa saling membantu sesuai kemampuan masing-masing.
Komitmen Merawat Fasilitas
Sebagai bentuk tanggung jawab atas fasilitas bantuan pemerintah, sekolah juga memberi perhatian pada aspek pemeliharaan. Guru dan siswa diarahkan menggunakan perangkat sesuai kebutuhan pembelajaran serta menjaganya agar tidak mengalami kerusakan.
Jika muncul kendala teknis, penanganan segera dilaporkan agar perangkat dapat kembali digunakan dan bertahan dalam jangka panjang.
“Harapannya fasilitas ini bisa terus dimanfaatkan dan dirawat dengan baik, sehingga tidak hanya digunakan di awal saja. Kami juga berharap guru semakin terbiasa memanfaatkan teknologi sesuai kebutuhan pembelajaran dan siswa mendapatkan pengalaman belajar yang lebih menarik,” kata Rizkon.
Menurutnya, teknologi tetap harus ditempatkan sebagai alat bantu pembelajaran.
“Yang paling penting, teknologi ini tetap digunakan sebagai alat bantu untuk mendukung proses belajar, bukan menggantikan peran guru,” kata dia.









