MALANG, KYAIMENTERI.ID – Masa kuliah menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan diri, tidak hanya melalui perkuliahan, tetapi juga lewat organisasi. Dosen Dr. Joko Susilo, S.Sos., M.Si., menyebut masa menjadi aktivis sebagai golden moment untuk mengasah kemampuan nonakademik atau soft skill.
Pesan tersebut disampaikan Joko dalam studium generale pada pembukaan Musyawarah Kerja Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Renaissance FISIP Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), di Aula Masjid AR. Fachruddin UMM.
“Menjadi kader IMM secara khusus, atau menjadi aktivis secara umum, adalah golden moment dalam rangka menggali potensi dan mengembangkan diri,” kata Joko dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Jumat (23/10/2026).
Ia menjelaskan bahwa pengalaman berorganisasi dapat menjadi ruang pembelajaran di luar perkuliahan formal.
Dinamika organisasi, termasuk berbagai tantangan yang dihadapi kader, merupakan bagian dari proses pembentukan kapasitas yang tidak sepenuhnya diperoleh melalui kegiatan akademik di kelas.
Menurutnya, kader perlu memanfaatkan waktu selama kuliah dengan menyeimbangkan aktivitas akademik dan kegiatan nonformal. Pengalaman tersebut dapat membantu mengembangkan sejumlah kemampuan, seperti berpikir kritis, komunikasi, dan kolaborasi.
Joko juga menekankan bahwa kemampuan kader tidak cukup diukur dari kecakapan menyampaikan gagasan. Seorang kader IMM harus memahami substansi dari pernyataan yang disampaikan agar mampu mempertanggungjawabkan pemikirannya.
“Kader IMM ketika mengatakan atau membuat sesuatu harus bisa membuat statement yang top. Selain membuat statement, harus paham apa yang menjadi statement,” jelasnya.
Ia mengingatkan bahwa kemampuan merangkai istilah atau menyusun pernyataan yang terdengar meyakinkan harus disertai pemahaman yang memadai. Kader tidak hanya terampil berbicara, tetapi juga memiliki kedalaman berpikir dan landasan pengetahuan yang kuat.
Joko juga mengaitkan aktivitas organisasi dengan nilai kebermanfaatan dalam Q.S. An-Nahl ayat 97.
Ia mendorong kader menjadikan amal saleh sebagai orientasi gerakan, antara lain melalui interaksi yang baik, ajakan kepada kebaikan, dan kontribusi positif bagi lingkungan.
Dalam pemaparannya, Joko menguraikan tiga ciri kader IMM, yaitu formatif, produktif, dan kontributif. Kader diharapkan terus berkembang melalui proses perkaderan, menghasilkan karya atau gagasan, serta memberikan sumbangsih nyata kepada masyarakat.
Joko juga menyebut bahwa organisasi menawarkan manfaat secara emosional maupun fungsional. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari proses pembelajaran yang dapat memperkaya kehidupan mahasiswa di luar pencapaian akademik.









