PALEMBANG, KYAIMENTERI.ID — Program Studi Studi Agama-Agama berkolaborasi dengan Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam UIN Raden Fatah Palembang, menggelar kunjungan akademik ke lima rumah ibadah di Kota Palembang, Rabu (14/10/2026).
Kegiatan yang diikuti 100 mahasiswa dan dosen pendamping ini mendatangi Masjid Cheng Ho, Gereja Katedral, Vihara Pundarika Dharma, Pura Agung Sriwijaya, dan kawasan Pulau Kemaro.
“Mahasiswa bisa membaca tentang agama Buddha, Hindu, Kristen, dan Islam di ruang kuliah. Namun, mereka juga perlu bertemu langsung dengan umatnya, mengenal tempat ibadahnya, dan mendengarkan bagaimana para pemeluk agama memahami serta menjalankan keyakinannya. Pengalaman seperti ini tidak sepenuhnya bisa diperoleh dari buku,” ujar Ketua Program Studi Studi Agama-Agama, Nugroho.
Ia menjelaskan, kunjungan tersebut bertujuan memperkenalkan kehidupan beragama melalui pengalaman langsung.
Mahasiswa mengamati simbol keagamaan, tradisi, tata cara ibadah, serta kehidupan sosial umat beragama untuk menghubungkan teori perkuliahan dengan praktik di masyarakat.
Menurutnya, mahasiswa perlu mengembangkan kemampuan observasi dan dialog agar memahami praktik keagamaan secara objektif, bukan berdasarkan asumsi.
“Kita tidak meminta mahasiswa menyamakan semua agama. Setiap agama memiliki ajaran, tradisi, dan cara beribadah yang berbeda. Yang ingin kita bangun adalah kemampuan memahami perbedaan tersebut secara adil, tanpa prasangka, dan tanpa harus kehilangan keyakinan sendiri,” jelas Nugroho.
Pengalaman berinteraksi langsung ini dirasakan oleh Yafi, mahasiswa semester III Program Studi Studi Agama-Agama, saat mengunjungi Vihara Pundarika Dharma.
“Saya belajar bahwa Buddha Mahayana menekankan pengembangan kebijaksanaan dan welas asih melalui jalan Bodhisattva, yaitu upaya mencapai pencerahan demi kesejahteraan semua makhluk,” kata Yafi.
Melalui pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning) ini, mahasiswa dapat membandingkan teori perkuliahan dengan praktik keagamaan di lapangan.
Nugroho berharap kegiatan ini menjadi bekal mahasiswa memahami keberagaman agama di Sumatera Selatan sekaligus mengasah kemampuan komunikasi lintas agama.
“Tujuan akhirnya bukan sekadar mengenal lima tempat ibadah. Kami ingin mereka belajar melihat kehidupan beragama secara langsung, mengajukan pertanyaan dengan santun, dan membangun pemahaman berdasarkan pengalaman, bukan asumsi. Dari situlah dialog antaragama bisa berkembang,” pungkasnya. (*)









