KYAIMENTERI.ID — Ada banyak pengalaman berkesan yang dibawa pulang seseorang setelah menunaikan ibadah haji. Bagi seorang jamaah yang ditemui Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti, salah satunya adalah pengalaman mencium Hajar Aswad.
Namun, pengalaman itu ternyata menghadirkan cerita yang cukup menggelitik.
Abdul Mu’ti yang akrab disapa Kyai Menteri ini menuturkan kisah tersebut ketika dirinya menjadi petugas haji. Suatu malam, ia menyapa seorang jamaah yang tengah bersantai di lobby lounge maktab.
Wajah jamaah tersebut tampak berseri-seri. Senyum bahagia terlihat jelas dari raut mukanya.
“Assalamu’alaikum. Sedang santai, Pak?” sapa Kyai Menteri.
“Wa’alaikumussalam. Ya, sedang santai, Mas,” jawab jamaah itu.
Kyai Menteri kemudian menanyakan kondisi ibadahnya.
Jamaah tersebut mengaku bersyukur karena seluruh rangkaian ibadah yang dijalaninya telah terlaksana.
“Kelihatannya Bapak sangat bahagia,” kata Kyai Menteri.
“Alhamdulillah,” jawabnya.
Rasa penasaran Kyai Menteri pun muncul. Ia kemudian bertanya apakah ada kabar baik yang membuat jamaah itu terlihat begitu bahagia.
Jawabannya ternyata cukup sederhana.
“Alhamdulillah, cita-cita saya tercapai,” ujar jamaah tersebut.
“Boleh tahu, Pak?” tanya Kyai Menteri.
Dengan wajah semakin sumringah, jamaah itu kemudian mengungkapkan pengalamannya.
“Alhamdulillah. Waktu tawaf tadi saya bisa mencium Hajar Aswad.”
Kyai Menteri pun turut mengucapkan syukur dan kemudian menanyakan bagaimana pengalamannya.
Jawaban jamaah tersebut justru membuat cerita semakin menarik.
“Sangat luar biasa. Ternyata Hajar Aswad itu wangi ya, Mas,” katanya.
Jamaah itu kemudian terus bercerita dengan penuh semangat mengenai pengalamannya. Kyai Menteri memilih tidak memotong ceritanya dan hanya mendengarkan.
Setelah cukup panjang bercerita, tiba-tiba jamaah tersebut mengajukan sebuah pertanyaan.
“Katanya Hajar Aswad itu batu dari surga ya, Mas?”
“Kata guru saya begitu,” jawab Kyai Menteri.
Jamaah itu kemudian kembali bertanya.
“Kenapa Hajar Aswad wangi, Mas?”
Kyai Menteri terdiam sejenak. Jamaah tersebut tampaknya benar-benar menunggu jawaban.
“Kenapa wangi, Mas?” tanyanya lagi, kali ini lebih mendesak.
“Kenapa wangi?” Kyai Menteri balik bertanya.
“Ya,” jawab jamaah itu.
Jawaban Kyai Menteri berikutnya justru menjadi penutup yang mengundang tawa.
“Kenapa wangi? Kata guru saya karena dioles minyak wangi.”
Mendengar jawaban tersebut, jamaah itu sempat terlihat kecewa. Namun, ia menyadari bahwa Kyai Menteri Mu’ti sedang bercanda.
Suasana yang semula serius pun berubah menjadi penuh tawa. Keduanya akhirnya tertawa berderai bersama.
Bagi Kyai Menteri Mu’ti, kisah tersebut menjadi salah satu pengalaman ringan dan jenaka yang membekas ketika bertugas mendampingi jamaah haji.
Di tengah rangkaian ibadah yang penuh kekhusyukan, ternyata selalu ada cerita sederhana yang bisa menghadirkan senyum—bahkan bermula dari sebuah pertanyaan polos: mengapa Hajar Aswad wangi? (*)
(Disadur dari buku berjudul Guyon Maton karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)









