Dalang Cilik Aditya Ghandi Hidupkan Srikandi Krida di Milad ke-68 FKIP UMS

Penulis: 
Dalang cilik Aditya Ghandi, siswa MI Muhammadiyah PK Kartasura, tampil membawakan lakon Srikandi Krida dalam peringatan Milad ke-68 FKIP UMS - Foto: Dok Humas UMS

SURAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Seni wayang kulit menjadi cara Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) merawat budaya sekaligus menanamkan nilai pendidikan. Memperingati Milad ke-68, FKIP UMS menghadirkan pentas wayang bertajuk Srikandi Krida di Auditorium Mohammad Djazman, Kampus I UMS, Surakarta, Jumat (18/9/2026).

Pentas tersebut menampilkan dalang cilik Aditya Ghandi, siswa MI Muhammadiyah Program Khusus (MIM PK) Kartasura, di bawah asuhan Ki Tulus Raharjo. Pertunjukan melibatkan keluarga besar FKIP UMS, mulai dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga keluarga mereka.

Dekan FKIP UMS, Prof. Anam Sutopo., mengatakan, peringatan milad menjadi momentum untuk mengenang perjalanan fakultas sekaligus memperkuat semangat pengabdian di bidang pendidikan.

“FKIP UMS telah menginspirasi, mendidik, dan mengabdi kepada negeri,” ujarnya.

Anam menjelaskan, perjalanan FKIP UMS bermula pada 18 September 1958 ketika FKIP Muhammadiyah Surakarta berdiri sebagai cabang FKIP Muhammadiyah Jakarta.

Pada 1965, lembaga tersebut berdiri mandiri sebagai IKIP Muhammadiyah Surakarta. Perkembangan berikutnya terjadi pada 1981, saat IKIP Muhammadiyah Surakarta bergabung dengan Institut Agama Islam Muhammadiyah Surakarta dan menjadi Universitas Muhammadiyah Surakarta, yang dipelopori Mohammad Djazman Al Kindi.

Menurut Anam, pemilihan lakon Srikandi Krida memiliki keterkaitan dengan perjalanan FKIP UMS. Tokoh Srikandi merepresentasikan keberanian, semangat, dan keteguhan dalam perjuangan.

Nilai tersebut diharapkan mendorong lahirnya generasi penerus yang mampu melanjutkan cita-cita para pendiri dan senior fakultas.

“Kami berharap muncul Srikandi-Srikandi baru di FKIP,” katanya.

Rektor UMS Prof. Harun Joko Prayitno, mengapresiasi penyelenggaraan milad yang mengangkat seni wayang. Menurut dia, pewayangan menyimpan beragam karakter dan dinamika yang dapat menjadi media pembelajaran kehidupan, termasuk di lingkungan perguruan tinggi.

Harun menyoroti tiga nilai dari dunia pewayangan, yakni uswah atau keteladanan, tasamuh atau sikap menghargai perbedaan, serta tawazun atau keseimbangan. Ketiganya dinilai penting dalam membangun kehidupan kampus yang harmonis di tengah keberagaman pandangan, karakter, dan latar belakang.

Sementara itu, Sekretaris Badan Pembina Harian (BPH) UMS Prof. Sabar Narimo, menyebut lakon Srikandi Krida membawa pesan keberanian dan perjuangan.

Srikandi, kata dia, merupakan salah satu tokoh penting dalam kisah Perang Baratayudha.

“Nilai perjuangan tersebut relevan dengan semangat keluarga besar UMS dalam mengembangkan pendidikan dan membangun generasi berkemajuan,” ujarnya.

Bagikan Tulisan Ini