Santri Makassar Temukan Celah Keamanan NASA

Penulis: Tony Muhammad | Editor: Syaifudin
Muhammad Al Hindawi, tahfiz Alquran 30 Juz, santri Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar yang menemukan dua celah keamanan tingkat kritis pada sistem security milik NASA. (Foto : istimewa)

MAKASSAR, KYAIMENTERI.ID – Badan penerbangan dan antariksa Amerika Serikat (AS), National Aeronautics and Space Administration (NASA), memberikan penghargaan terhadap Muhammad Al Hindawi,  santri Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, Sulawesi Selatan.

Penghargaan diberikan setelah Al Hindawi melaporkan ada dua celah sistem keamanan tingkat kritis (critical vulnerability), pada lembaga independen pemerintah AS tersebut.

“Saya baru empat hingga lima bulan lalu mempelajari cybersecurity secara otodidak,” kata santri kelas 12 tersebut, Rabu (16/9/2026).

Al Hindawi menceritakan, penemuannya berawal ketika mencari dan menguji kerentanan pada sistem security milik Pondok Pesantren Al Imam Ashim Makassar, tempatnya menimba ilmu.

Dari situ memperlihatkan bagaimana Bugcrowd –platform keamanan siber global yang menghubungkan perusahaan dengan komunitas peretas etis (white-hat hackers) untuk menemukan celah keamanan atau bug pada sistem– menjadi salah satu ruang bagi Al Hindawi untuk belajar, sekaligus menguji kemampuan cybersecurity secara langsung.

“Saya hanya memanfaatkan tutorial YouTube dan berbagai laporan riset keamanan yang tersedia di platform Bugcrowd,” ujarnya.

Ia pun mempelajari laporan penelitian keamanan dari peneliti lain di platform itu untuk memetakan pola kerentanan sistem.

“Awalnya saya menggunakan Subfinder untuk mengumpulkan subdomain, lalu mengecek status response code-nya menggunakan httpx,”jelasnya.

Al Hindawi mempersempit pencarian untuk menemukan sistem yang berpotensi memiliki kerentanan. Ia juga menyaring sistem kelemahan spesifik.

“Dari sana baru saya cari sistem mana yang rentan terkena SQL injection,” ungkapnya.

Selain di NASA, Al Hindawi juga menemukan satu celah kerentanan pada sistem yang dipakai University of Melbourne, Australia.

Temuan itu disampaikan melalui program resmi Vulnerability Disclosure Program (VDP) yang tersedia di platform Bugcrowd.

Pelaporan sebagai proses temuan keamanan kepada masing-masing institusi yang divalidasi tim keamanan siber mereka.

Atas kontribusinya itu, Al Hindawi menerima surat penghargaan atau Letter of Recognition (LOR) dari NASA.

Sedangkan temuan di University of Melbourne hanya berupa konfirmasi validasi dari tim Cyber Operations.

Wakil Kepala Madrasah (Wakamad) Kurikulum di Pondok Pesantren Tahfizhul Qur’an (PPTQ) Al-Imam Ashim Makassar mengatakan, kemampuan Al Hindawi belajar digital dilakoninya secara mandiri.

“Pondok dan madrasah hanya mengarahkan penggunaan internet dengan cara sehat dan bertanggung jawab,” kata Ibrahim.

Ia mengatakan, penggunaan perangkat digital bagi santri hanya difasilitasi pada hapalan Alquran. Meski tetap diberi kebebasan mengakses apapun secara online, selama dalam pantauan pembina.

“Ananda mengisi dengan mempertajam minat dan bakatnya dalam dunia digital,” katanya.

Di tengah proses belajar, lanjut Ibrahim, belakangan perubahan tampak melalui prestasi Al Hindawi ketika menyelesaikan hafalan Alqur’an 30 Juz dan juga menekuni qiraat sab’ah.

Sementara itu, ayahnya H. Salman mengatakan, setiap kali Al Hindawi liburan pulang kampung halamannya di Kabupaten Bone, selalu berharap ada jaringan Wi-Fi untuk menunjang aktivitas belajarnya.

“Cita-citanya ingin kuliah di luar negeri,” kata pembina Pondok Pesantren Al-Junaidiyah Biru, Watampone ini. (*)

Bagikan Tulisan Ini