Belajar Ibadah Haji Tak Cukup di Kelas, 360 Siswa MI Muhammadiyah Ajibarang Praktik Langsung

Penulis: Kusworo | Editor: Budi Supriyantoro
Sebanyak 360 siswa MI Muhammadiyah Ajibarang mengikuti Kids Hajj Manasik dengan mempraktikkan rangkaian ibadah haji, mulai dari miqat, Mina, Arafah, Muzdalifah, hingga tawaf, sa’i, dan tahalul. [foto/kusworo]

BANYUMAS, KYAIMENTERI.ID — Sebanyak 360 siswa MI Muhammadiyah Ajibarang, Kabupaten Banyumas, mengikuti Kids Hajj Manasik dengan mempraktikkan secara langsung rangkaian ibadah haji.

Kegiatan tersebut dirancang menyerupai perjalanan jamaah haji, mulai dari miqat, Mina, Arafah, Muzdalifah, hingga Tanah Haram atau Makkah. Para siswa juga mempraktikkan tawaf, sa’i, dan tahalul.

Penanggung jawab kegiatan, Ratwo Ahmad, mengatakan Kids Hajj Manasik merupakan program rutin MI Muhammadiyah Ajibarang. Kegiatan itu tidak hanya memberikan pemahaman tentang fikih haji melalui pembelajaran di kelas, tetapi juga mengajak siswa mempraktikkan tahapan ibadah haji secara langsung.

“Tujuan kami mengenalkan ibadah haji kepada anak-anak. Tidak hanya dengan teori, tetapi dengan praktik langsung di lapangan,” kata Ratwo dalam keterangannya kepada wartawan, Rabu (16/9/2026).

Menurut Ratwo, konsep kegiatan sengaja dibuat menyerupai perjalanan jamaah haji agar siswa memperoleh pengalaman belajar yang lebih kontekstual.

Gedung baru MI Muhammadiyah Ajibarang digunakan sebagai simbol miqat, tempat peserta memulai mengenakan ihram. Dari lokasi tersebut, siswa berjalan menuju gedung lama yang disimulasikan sebagai Mina.

Perjalanan kemudian dilanjutkan menuju Kantor Kecamatan Ajibarang yang digunakan sebagai simbol Padang Arafah untuk mempraktikkan wukuf. Selanjutnya, rombongan bergerak menuju Masjid At-Taqwa Ajibarang sebagai simbol Muzdalifah.

Dari Muzdalifah, peserta menuju lokasi yang disiapkan sebagai simbol Tanah Haram atau Makkah. Di tempat tersebut, siswa mempraktikkan tawaf, sa’i, hingga tahalul.

“Perjalanannya kami susun sesuai rute haji. Dari miqat, kemudian Mina, Arafah, Muzdalifah, lalu menuju Makkah. Di sana ada proses tawaf, sa’i, dan tahalul,” jelas Ratwo.

Peserta kegiatan merupakan siswa kelas 1 hingga kelas 6. Mereka dibagi menjadi enam rombongan yang masing-masing didampingi guru.

Para siswa juga mengenakan atribut layaknya jamaah haji. Siswa laki-laki mengenakan pakaian ihram, sedangkan siswi mengenakan gamis putih.

Selain guru pendamping, kegiatan tersebut melibatkan Persaudaraan Haji Muhammadiyah (PHM) sebagai pembimbing. Mereka membantu siswa memahami tata cara, rukun, dan wajib haji sesuai tuntunan fikih.

Ratwo mengatakan pembelajaran melalui praktik diharapkan membuat materi ibadah haji lebih mudah dipahami siswa. Pengalaman tersebut sekaligus menjadi bekal pengetahuan jika kelak mereka berkesempatan menunaikan ibadah haji.

“Paling tidak, di dalam benak mereka sudah tergambar bahwa ketika besar nanti mereka akan melaksanakan ibadah haji. Mereka juga mengenal rukun-rukun dan wajib haji yang ada dalam fikih ibadah haji,” ujarnya.

Selain pengetahuan agama, Kids Hajj Manasik juga diarahkan untuk menanamkan karakter kepada siswa, di antaranya rasa cinta kepada Allah dan kemandirian.

Sejumlah siswi MI Muhammadiyah Ajibarang mengikuti Kids Hajj Manasik dengan mempraktikkan rangkaian ibadah haji, mulai dari miqat hingga tahalul, Rabu (16/9/2026). [foto/kusworo]
Hal itu dirasakan Muhammad Raihan Afisena Pambudi, siswa kelas 6 MI Muhammadiyah Ajibarang. Ia mengaku baru pertama kali mengikuti kegiatan manasik haji tersebut.

Menurut Raihan, kegiatan itu memberikan pengalaman berbeda karena materi yang selama ini dipelajari dapat dipraktikkan secara langsung.

“Menumbuhkan cinta kepada Allah dan menumbuhkan rasa mandiri kepada diri sendiri,” kata Raihan.

Ia juga mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut bersama teman-temannya.

Di luar kegiatan manasik, Raihan memiliki cita-cita yang cukup tinggi. Siswa kelas 6 itu ingin menjadi astronot.

“Saya bercita-cita menjadi astronot,” ujarnya.

Bagi MI Muhammadiyah Ajibarang, Kids Hajj Manasik tidak hanya menjadi agenda pembelajaran tahunan. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari syiar madrasah sekaligus sarana memperkenalkan program pendidikan kepada masyarakat di Ajibarang dan sekitarnya.

Bagikan Tulisan Ini