Pelajar SMPN 33 Makassar Dilatih Menulis Puisi Lontara Digital

Penulis: Tony Muhammad | Editor: Syaifudin
Para peserta pelatihan dari pelajar UPT SPF SMPN 33 Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel) bersama tim pelatihan dari PKM UNM. (Foto: Dok.istimewa).

MAKASSAR, KYAIMENTERI.ID — Sebanyak 25 pelajar UPT SPF SMPN 33 Makassar, Sulawesi Selatan, mengikuti kegiatan literasi budaya menulis puisi melalui aksara Bugis digital sejak 1 September 2026.

Kepala SMPN 33 Makassar, Andi Rahayu Canten, S.Pd., M.M mengatakan, kegiatan tersebut dapat dilanjutkan dan dikembangkan, tidak hanya dalam bentuk pelatihan satu kali, tetapi juga melalui kerja sama dengan pihak kampus seperti Universitas Negeri Makassar (UNM).

“Pengembangan antologi puisi Bugis digital, dokumentasi audio pembacaan puisi, publikasi karya siswa, dan pemanfaatan aksara lontara dalam berbagai aktivitas literasi sekolah menjadi sejumlah peluang untuk dapat ditindaklanjuti,” katanya, Kamis (10/9/2026).

Melalui kegiatan tersebut, menurut Andi Rahayu, aksara Lontara dapat digunakan dalam kegiatan membaca, menulis, menciptakan, dan membagikan karya melalui media digital.

“Kegiatan di SMPN 33 Makassar menjadi ruang penerapan inovasi tersebut dalam konteks pendidikan dan literasi budaya,” ujarnya.

Ketua tim Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dr. Andi Agussalim AJ, S.Pd., M.Hum mengungkapkan, pendekatan yang digunakan disesuaikan dengan kebutuhan agar bahasa dan aksara Bugis memiliki ruang penggunaan di kalangan generasi muda.

“Kami tidak ingin Lontara hanya dikenal sebagai peninggalan budaya yang dipelajari untuk menghadapi ujian. Kami ingin siswa mengalami sendiri bahwa bahasa Bugis dan aksara Lontara dapat digunakan untuk menciptakan karya dan hadir dalam teknologi yang mereka gunakan sehari-hari,” kata Andi Agussalim.

Kegiatan tersebut mempertemukan literasi sastra Bugis, kreativitas menulis puisi, pembelajaran aksara Lontara, dan pemanfaatan teknologi digital.

Peserta diperkenalkan kembali dengan sastra Bugis dan penggunaan bahasa Bugis dalam kehidupan sehari-hari.

Peserta kemudian menyusun puisi mengenai keluarga, persahabatan, lingkungan, cita-cita, dan kehidupan sehari-hari. Teks puisi yang telah disusun ditransformasikan ke dalam aksara Lontara digital.

Aksara digital dipasang pada seluruh komputer laboratorium. Peserta diperkenalkan dengan penggunaan keyboard dan font digital untuk menulis aksara Lontara.

Menurut Andi Agussalim, puisi dipilih sebagai medium karena memberikan ruang kepada siswa untuk mengekspresikan pengalaman dan gagasan mereka dengan bahasa Bugis.

“Kajian mengenai Bugis Keyboard, misalnya, menunjukkan potensinya dalam menarik minat pengguna untuk belajar baca-tulis Lontara dan menghasilkan karya menggunakan aksara tersebut,” katanya.

Kegiatan diawali dengan permainan kecapi Bugis dan sejumlah bait puisi (elong). Peserta merespons dengan anggukan, hentakan kaki, dan nyanyian mengikuti “Pakkacapi”.

Hasil evaluasi menunjukkan perubahan kemampuan peserta pada tiga aspek. Pemahaman siswa terhadap struktur aksara meningkat dari 34 persen sebelum pelatihan menjadi 88 persen setelah pelatihan.

Kemampuan mengetik aksara secara digital meningkat dari 18 persen menjadi 90 persen. Sementara kemampuan kreativitas dalam menulis puisi Bugis meningkat dari 28 persen menjadi 82 persen.

Sebelum pelatihan, tim menemukan 20 dari 25 peserta atau sekitar 80 persen masih merasa canggung atau kurang percaya diri ketika diminta menyusun kalimat dalam bahasa Bugis. (*)

 

Bagikan Tulisan Ini