Dari Rawa Danau ke Podium Nasional, Perjuangan Zhafran Raih Perunggu OSN IPS 2026

Penulis: Ahmad Herdi | Editor: Eko Budi Utomo
Tubagus Zhafran Arroyyan, siswa SMP Islam Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Serang, melakukan presentasi dalam ajang Olimpiade Sains Nasional (OSN) Tingkat Nasional 2026.foto (ist)

SERANG, KYAIMENTERI.ID – Medali perunggu Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 bidang IPS itu akhirnya berada di tangan Tubagus Zhafran Arroyyan.

Namun, bagi siswa SMP Islam Nurul Fikri Boarding School (NFBS) Serang tersebut, pencapaian di Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2026 bukan sekadar soal medali.

Di balik prestasi yang diraih, ada proses panjang, latihan berulang, tekanan menghadapi persaingan hingga keberanian menyampaikan gagasan di hadapan para juri.

Perjalanan Zhafran menuju tingkat nasional sudah dimulai sejak duduk di kelas VII.

Ia beberapa kali mengikuti kompetisi OSN dan sebelumnya baru mampu menembus tingkat kabupaten.

Kegagalan tersebut tidak membuatnya berhenti. Justru dari proses itu, Zhafran terus mendapatkan pembinaan dan memperkuat kemampuannya.

Pada OSN 2026, kesempatan itu akhirnya terbuka lebih lebar. Zhafran berhasil lolos hingga tingkat provinsi sebelum melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.

Menghadapi persaingan dengan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia, Zhafran menjalani pembinaan secara intensif bersama guru dan dosen pembimbing.

Ia tidak hanya mempersiapkan diri untuk menghadapi tes tertulis, tetapi juga harus mampu menyampaikan gagasan melalui tahapan presentasi.

Persiapan bahkan dilakukan dengan latihan presentasi bersama tiga penguji internal.

Berbagai masukan diberikan untuk menyempurnakan materi, cara penyampaian hingga kesiapan Zhafran menghadapi pertanyaan dan penilaian juri.

Di tengah persiapan itu, Zhafran memilih tema yang dekat dengan lingkungan Banten: kearifan lokal Rawa Danau.

Ia mengangkat gagasan tentang pemanfaatan lingkungan yang tetap berjalan beriringan dengan upaya menjaga kelestarian alam di kawasan Padarincang hingga Mancak.

Materi itu tidak hanya dibangun dari teori. Zhafran bersama pembimbing dan tim media turun langsung ke kawasan Rawa Danau.

Mereka melakukan pengamatan dan wawancara untuk mendapatkan gambaran nyata mengenai kondisi lingkungan dan kehidupan masyarakat di kawasan tersebut.

Dari sana, materi presentasi menjadi lebih hidup. Apa yang sebelumnya dipelajari dalam pembinaan bertemu dengan kenyataan di lapangan.

Proses tersebut menjadi pengalaman tersendiri bagi Zhafran. Gagasan yang sebelumnya dipelajari melalui pembinaan kemudian diperkaya dengan kondisi nyata di lapangan.

OSN Nasional 2026 sendiri diselenggarakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) melalui Pusat Prestasi Nasional (Puspresnas) pada 26-28 Agustus 2026 secara daring.

Zhafran mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari pembukaan dan technical meeting, tes tertulis hingga presentasi.

Tes tertulis bidang IPS dilaksanakan pada Kamis (27/8/2026), sedangkan tahapan presentasi berlangsung pada Jumat (28/8/2026).

Setelah melewati seluruh tahapan tersebut, rasa tegang akhirnya berubah menjadi kebahagiaan. Dalam pengumuman hasil pada Ahad (30/8/2026), Zhafran dinyatakan meraih Medali Perunggu OSN Tingkat Nasional 2026 bidang IPS.

Bagi Zhafran, capaian tersebut bukan sekadar sebuah medali. Prestasi itu menjadi bukti bahwa proses panjang, latihan dan dukungan dari banyak orang dapat mengantarkan seorang pelajar melewati batas yang sebelumnya terasa sulit.

“Saya merasa sangat bahagia dan terharu. Semoga setelah ini akan ada prestasi-prestasi lain yang akan menyusul,” ujar Zhafran.

Ia juga menyampaikan terima kasih kepada orang tua, para ustaz dan ustazah, pembimbing serta teman-temannya yang terus memberikan dukungan dan doa selama proses persiapan hingga kompetisi berlangsung.

“Alhamdulillah saya mendapatkan banyak sekali support dari sekolah, orang tua tercinta, pembimbing Ustadz Aris Ariyanto, ustadz dan ustadzah, dan teman-teman,” katanya.

Kepala SMP Islam Nurul Fikri Boarding School Nanik Restu Wardani mengatakan, prestasi Zhafran tidak lahir secara instan. Prosesnya sudah dibangun sejak siswa tersebut duduk di kelas VII.

Sejak mengikuti OSN, Zhafran mendapatkan pembinaan secara rutin. Sekolah juga menggandeng lembaga dari luar untuk memberikan motivasi sekaligus memperkuat materi yang dibutuhkan dalam menghadapi kompetisi.

“Alhamdulillah puji syukur kehadirat Allah SWT, atas izin-Nya Zhafran bisa juara nasional OSN IPS. Ini berkat support yang luar biasa dari orang tua, doa, dan dukungan dari seluruh ustaz dan ustazah,” ujar Nanik, Jumat (4/9).

Bagi Nanik, perjalanan Zhafran menjadi bukti bahwa prestasi membutuhkan proses.

Siswa yang sebelumnya hanya mampu mencapai tingkat kabupaten akhirnya bisa melangkah hingga tingkat provinsi dan menembus podium nasional.

Karena itu, keberhasilan tersebut diharapkan tidak berhenti pada Zhafran. Medali perunggu itu juga diharapkan menjadi pemantik bagi siswa lain untuk berani mencoba, berlatih, dan mengejar prestasi.

“Semoga prestasi Zhafran ini bisa menjadi penyemangat untuk teman-temannya di SMP Islam NFBS ataupun anak-anak seusianya untuk berlomba-lomba dalam prestasi,” kata dia.

Bagikan Tulisan Ini