PALEMBANG, KYAIMENTERI.ID — Waktu pelaksanaan Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan semakin dekat.
Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin mengingatkan pentingnya kepemimpinan Muhammadiyah yang tetap menjaga marwah persyarikatan.
Pesan itu ia sampaikan saat mengisi pengajian yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Palembang di Masjid Ar-Rofiah Ilyas Lassik, KM 7 Palembang, Kamis (3/9/2026).
Pengajian mengangkat tema “Menyongsong Muhammadiyah Muktamar yang Bermarwah dan Bermartabat”.
Din, yang pernah menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah pada periode 2005–2010 dan 2010–2015 mengatakan, kepemimpinan Muhammadiyah ke depan membutuhkan figur yang memiliki pengetahuan keislaman sekaligus kemampuan manajerial.
“Perlu ada figur ulama, memiliki pengetahuan keislaman. Muhammadiyah ini sudah terlanjur besar, maka juga perlu ahli manajemen,” kata Din.
Menurutnya, kemampuan memahami agama dan mengelola organisasi harus berjalan beriringan.
Muhammadiyah telah berkembang menjadi organisasi besar dengan jaringan dan amal usaha yang luas, sehingga membutuhkan kepemimpinan yang mampu menjaga arah gerakan sekaligus mengelolanya dengan baik.
Din juga mengingatkan dengan tegas agar kepemimpinan Muhammadiyah tidak dilandasi hubbud dunya atau kecintaan kepada dunia.
Menurutnya, kekuasaan dalam Muhammadiyah tidak boleh dipandang sebagai cara untuk memperkaya diri, tetapi harus ditempatkan sebagai bentuk pengabdian kepada persyarikatan dan masyarakat.
Yakin Muktamar Berjalan Damai dan Lancar
Din yakin Muktamar Muhammadiyah 2027 di Medan akan berjalan dengan damai, lancar, dan penuh martabat.
Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam proses menuju muktamar tidak dapat dipungkiri akan muncul nuansa politik, terutama berkaitan dengan dukungan terhadap figur-figur tertentu.
Karena itu, ia berpesan agar warga dan kader Muhammadiyah tidak berlebihan dalam memberikan dukungan.
“Tidak terlalu ngotot untuk mendukung calon tertentu,” kata Din.
Menurutnya, perbedaan pilihan merupakan sesuatu yang wajar dalam organisasi. Namun, dinamika tersebut tidak boleh mengganggu persaudaraan maupun marwah Muhammadiyah.
Kepemimpinan Muhammadiyah Egaliter
Din juga menyinggung salah satu ciri kepemimpinan Muhammadiyah yang egaliter. Menurutnya, jabatan dalam Muhammadiyah tidak menciptakan perbedaan derajat antarkader.
“Tidak ada bedanya Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dengan Ketua PDM,” kata Din sambil melirik Ketua PDM Kota Palembang sekaligus Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muh Mawangir, M.Ag.
Menariknya, Din sendiri menunjukkan prinsip tersebut dalam perjalanan organisasinya. Meskipun pernah menjabat Ketua Umum PP Muhammadiyah selama dua periode, saat ini ia menjadi Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Cilandak, Jakarta Selatan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa dalam tradisi Muhammadiyah, pengabdian tidak berhenti setelah seseorang tidak lagi menduduki jabatan di tingkat pusat.
Kepemimpinan dapat berlangsung dari tingkat pusat hingga ranting dengan semangat pengabdian yang sama.
Krisis Figur Keulamaan dan Manajerial
Ketua PDM Kota Palembang sekaligus Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang, Prof. Dr. Muh Mawangir, M.Ag., menilai kriteria tersebut tidak hanya menjadi harapan bagi kepemimpinan Muhammadiyah di tingkat pusat.
Menurut Mawangir, kebutuhan terhadap figur dengan kapasitas keulamaan dan manajerial juga terasa di tingkat wilayah maupun daerah.
“Kriteria itu bukan hanya menjadi harapan untuk kepemimpinan Muhammadiyah Pusat, tetapi juga di wilayah dan daerah. Sekarang ini di wilayah juga mengalami krisis figur keulamaan dan manajerial,” ujarnya. (*)









