NTT, KYAIMENTERI.ID – Masa tanggap darurat pascagempa di Nusa Tenggara Timur (NTT) berakhir. Namun, penanganan terhadap penyintas masih berlanjut, terutama untuk layanan kesehatan dan pemulihan psikososial.
Status keadaan darurat bencana yang ditetapkan Bupati Manggarai Barat melalui SK Nomor 229/KEP/HK/2026 berlaku selama 14 hari, terhitung 15–28 Agustus 2026.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per 31 Agustus 2026, gempa NTT menyebabkan 120 orang meninggal dunia.
Sebanyak 1.658 penyintas mengalami luka atau sakit. Sementara jumlah warga yang masih mengungsi mencapai 183.673 jiwa.
Pengungsi terbanyak berada di Kabupaten Manggarai dengan 50.556 jiwa. Disusul Nagekeo 50.276 jiwa, Manggarai Timur 30.098 jiwa, Manggarai Barat 27.564 jiwa, Ngada 19.369 jiwa, Sikka 5.658 jiwa, dan Ende 152 jiwa.
Selain kebutuhan medis, kondisi psikologis penyintas juga masih membutuhkan perhatian. Layanan kesehatan dan psikososial terus dilakukan untuk memastikan warga terdampak mendapat pendampingan yang aman.
Hingga 26 Agustus, Kementerian Kesehatan telah menerjunkan 392 tenaga kesehatan untuk merespons krisis kesehatan di tujuh kabupaten di Kepulauan Flores.
Dua rumah sakit lapangan berbasis tenda juga didirikan untuk menangani korban dengan kondisi berat.
EMT Muhammadiyah Layani 2.222 Penyintas
Di tengah berakhirnya masa tanggap darurat, Tim Medis Darurat (EMT) Muhammadiyah masih melanjutkan pelayanan.
Ketua EMT Muhammadiyah, Dokter Corona Rintawan mengatakan melalui program Indonesia Siaga, tim dijadwalkan bertugas selama 30 hari.
Berdasarkan laporan pelayanan yang diterima Lazismu, periode 17–28 Agustus 2026, Rumah Sakit Lapangan EMT Muhammadiyah telah menangani 2.222 pasien.
Rumah sakit lapangan berstandar WHO itu melayani penyintas dari berbagai kelompok usia. Terdiri atas 54 bayi, 128 balita, 178 anak, 78 remaja, 1.317 dewasa, dan 467 lansia.
Dari sisi jenis kelamin, pasien perempuan mencapai 1.328 orang dan laki-laki 894 orang. Sebanyak 13 ibu hamil juga mendapat layanan kesehatan.
Keluhan yang paling banyak ditemukan adalah infeksi saluran pernapasan sebanyak 437 kasus.
Berikutnya nyeri otot atau pegal-pegal (myalgia) 372 kasus, hipertensi 233 kasus, dyspepsia 186 kasus, serta sakit kepala dan nyeri leher hingga tengkuk (chepalgia) sebanyak 153 kasus.
Ia mengatakan kasus trauma atau cedera yang sebelumnya banyak ditemukan mulai menurun. Sebaliknya, penyakit infeksi menunjukkan kecenderungan meningkat.
“Data menunjukkan kasus trauma atau cedera menurun, sementara penyakit infeksius meningkat,” kata Corona dari Rumah Sakit Lapangan, Senin (31/8/2026).
Menurut dia, peningkatan penyakit infeksi kemungkinan berkaitan dengan kondisi lingkungan di sekitar lokasi pengungsian.
Karena itu, edukasi mengenai pola hidup sehat menjadi bagian penting dalam pelayanan lanjutan. Terutama terkait sanitasi, kebersihan lingkungan, dan akses air bersih.
Langkah tersebut diharapkan dapat mencegah penyebaran penyakit sekaligus membantu penyintas menjaga kesehatan selama masih berada di tenda pengungsian.









