BLORA, KYAIMENTERI.ID – Dunia kerja menjadi ruang belajar nyata bagi siswa SMK NU Kedungtuban, Kabupaten Blora.
Selama mengikuti Praktik Kerja Lapangan (PKL) kelas industri di Luwes Purwodadi, Grobogan, mereka tak hanya mengasah keterampilan teknis, tetapi juga ditempa untuk mandiri dan beradaptasi dengan budaya kerja profesional.
PKL tersebut berlangsung selama enam bulan. Para siswa mendapat kesempatan merasakan langsung dinamika pekerjaan di lingkungan ritel, termasuk berinteraksi dengan konsumen dan mengoperasikan sistem informasi perusahaan.
Manager Luwes Grobogan Sandri Wijaya mengatakan, pengalaman berhadapan langsung dengan konsumen menjadi bagian penting dalam proses pembelajaran.
Siswa dituntut mampu berkomunikasi dengan baik dengan konsumen yang memiliki beragam karakter.
“Ketika terjun langsung ke dunia kerja dan berhadapan dengan konsumen, siswa belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik,” ujar Sandri, Sabtu (29/8/2026).
Selain komunikasi, siswa juga belajar mengoperasikan berbagai sistem yang digunakan di Luwes.
Mulai menulis nota, mengoperasikan komputer kasir di supermarket dan department store, hingga menghitung serta menginput stok barang.
Menurut Sandri, pengalaman tersebut memberikan pembelajaran yang tidak selalu bisa diperoleh di ruang kelas.
Tak hanya keterampilan kerja, siswa juga ditempa untuk lebih mandiri. Terlebih bagi mereka yang harus tinggal jauh dari keluarga selama menjalani PKL.
“Mereka dituntut bisa mandiri, mengatur jadwal istirahat, belajar, dan praktik,” katanya.
Kemandirian tersebut sekaligus melatih siswa menjaga sikap dan tanggung jawab.
Mereka membawa nama baik keluarga, sekolah, dan tempat PKL melalui kedisiplinan serta perilaku selama berada di lingkungan kerja.
Sandri berharap pengalaman tersebut dapat memperkuat kesiapan siswa ketika lulus.
Bekal teori, praktik, dan pengalaman kerja diharapkan membuat lulusan lebih mudah beradaptasi dengan lingkungan profesional.
Sejumlah alumni, lanjut dia, bahkan menjadikan pengalaman magang di Luwes sebagai bekal untuk melanjutkan karier di perusahaan ritel nasional.
Namun, keterampilan yang diperoleh tidak harus berujung pada menjadi pekerja.
“Bekal ini juga bisa menjadi modal untuk membangun usaha secara mandiri,” ujarnya.
Kepala SMK NU Kedungtuban Mundhofar mengatakan, kelas industri dirancang untuk mempertemukan pembelajaran di sekolah dengan kebutuhan dunia kerja.
“Tujuan utama program kelas industri adalah menjembatani kesenjangan antara teori sekolah dan praktik nyata,” jelasnya.
Melalui program tersebut, siswa diharapkan memiliki keterampilan sesuai kebutuhan dunia usaha sekaligus memahami budaya kerja secara langsung.
Bagi siswa, pengalaman itu memberi gambaran lebih nyata tentang tuntutan dunia kerja.
Nihayatus Syifa, salah seorang siswa SMK NU Kedungtuban, mengatakan pengalaman paling berharga selama mengikuti kelas industri adalah memahami budaya kerja profesional dan tuntutan kecepatan dalam menyelesaikan pekerjaan.
Program PKL di Luwes Purwodadi pun menjadi lebih dari sekadar kewajiban akademik. Siswa belajar bekerja, berkomunikasi, bertanggung jawab, dan mengatur diri.
Pembelajaran di dunia industri akhirnya menjadi bekal penting bagi lulusan SMK. Tidak hanya untuk memasuki dunia kerja, tetapi juga untuk beradaptasi dan menciptakan peluang usaha secara mandiri.









