Dari Nusakambangan, Ketahanan Pangan Jadi Bekal Kemandirian Warga Binaan

Penulis: Gunawan Trihantoro | Editor: Eko Budi Utomo
Deputi Bidang Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur Jenderal Polisi Arif Makhfudiharto didampingi Kepala Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Winarso memborong melon hasil panen para Napi.

CILACAP, KYAIMENTERI.ID — Momentum HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Nusakambangan tak hanya diperingati lewat upacara, tetapi juga melalui karya warga binaan. Program ketahanan pangan menjadi jalan membangun keterampilan, produktivitas, dan bekal kemandirian saat mereka kembali ke masyarakat.

Deputi Bidang Deradikalisasi Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Inspektur Jenderal Polisi Arif Makhfudiharto, meninjau kawasan ketahanan pangan di Lapas Kelas IIA Kembang Kuning, Nusakambangan, Senin (17/8/2026).

Didampingi Kepala Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Winarso, Arif melihat berbagai sektor produktif yang dikelola bersama Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP), mulai dari pertanian, perkebunan, hingga peternakan.

Tak sekadar meninjau, Arif juga ikut memetik semangka dan melon yang dibudidayakan dalam program ketahanan pangan lapas.

Dengan antusias, ia memetik buah hasil panen bersama rombongan sebagai simbol keberhasilan pembinaan di Lapas Nusakambangan.

Bahkan, Arif memborong beberapa kilogram semangka dan melon hasil panen.

Buah tersebut kemudian dinikmati bersama sebagai bentuk apresiasi terhadap kerja keras para warga binaan.

Menurut Arif, kegiatan produktif di dalam lapas bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi bagian dari proses memanusiakan warga binaan agar memiliki bekal saat kembali ke tengah masyarakat.

“Ini merupakan suatu memanusiakan teman-teman Warga Binaan Pemasyarakatan untuk nantinya mereka akan kembali ke masyarakat, bisa memberikan manfaat,” ujarnya.

Ia menilai program ketahanan pangan di Lapas Kembang Kuning memiliki nilai strategis karena menghubungkan pembinaan warga binaan dengan agenda pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

Program tersebut, lanjutnya, sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam mewujudkan ketahanan dan kedaulatan pangan.

Saat meninjau kawasan peternakan, Arif turut mengapresiasi pengelolaan ternak domba yang menjadi bagian dari aktivitas produktif warga binaan.

Keterlibatan mereka dalam mengelola pertanian maupun peternakan dinilai menjadi pengalaman yang dapat dikembangkan setelah bebas.

Menariknya, kawasan ini juga menerapkan prinsip pertanian berkelanjutan dengan memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik.

Pola tersebut membentuk ekosistem produktif yang menghubungkan peternakan, pertanian, dan pengelolaan lingkungan secara terpadu.

Arif berharap model pembinaan seperti ini dapat dilanjutkan melalui program integrasi sosial sehingga keterampilan yang diperoleh warga binaan menjadi modal membangun kemandirian ekonomi di masyarakat.

“Kami bisa contoh ketika nanti para mantan WBP bebas, yang nantinya juga kita bisa lanjutkan program ini ketika mereka berintegrasi sosial,” katanya.

Sementara itu, Kepala Lapas Kelas IIA Kembang Kuning Winarso mengatakan kawasan ketahanan pangan menjadi ruang belajar bagi warga binaan untuk bekerja, berkarya, sekaligus membangun tanggung jawab.

Menurutnya, keterlibatan WBP dalam kegiatan pertanian dan peternakan diharapkan membentuk mental produktif serta menumbuhkan kepercayaan diri dalam menghadapi kehidupan setelah bebas.

Momentum peringatan kemerdekaan pun menjadi pengingat bahwa pembinaan di lembaga pemasyarakatan bukan semata menjalani masa pidana, melainkan mempersiapkan manusia agar mampu kembali berkontribusi bagi masyarakat.

Dari Nusakambangan, semangat kemerdekaan diterjemahkan dalam bentuk yang sederhana namun bermakna: bekerja, belajar, menghasilkan, dan menumbuhkan harapan menuju kemandirian.

“Ini luar biasa, yang bisa kita contoh dan kita majukan sehingga terwujud bahwa ketahanan, kedaulatan pangan ini bisa terwujud dan sukses,” tutur Arif.

Bagikan Tulisan Ini