Perempuan Boyolali Motori Homepimpah, Gerakan Pilah dan Olah Sampah dari Rumah

Penulis: Zaki Zain | Editor: Syaifudin
Ibu-ibu di RT 06/RW 09 Surodadi, Siswodipuran, Boyolali, mengikuti sosialisasi cara memilah sampah di rumah, Rabu (12/8/2026). Sosialisasi disampaikan oleh Sri Hidayati, Direktur Bank Sampah di wilayah tersebut. (Foto: Zaki Faddad)
BOYOLALI, KYAIMENTERI.ID – Puluhan ibu berkumpul di gazebo Kebun Gizi RT 06/RW 09 Surodadi, Siswodipuran, Boyolali, pada Rabu (12/8/2026).

Di tengah pertemuan itu, Sri Hidayati, pensiunan PNS sekaligus Direktur Bank Sampah RT 06, memegang buku saku berjudul Homepimpah: Pilah dan Olah Sampah dari Rumah.

Hari itu, Sri mensosialisasikan cara memilah sampah di rumah.

Buku saku terbitan Dinas Lingkungan Hidup Boyolali tersebut membantu warga mengenali sampah organik, sampah anorganik, serta sampah yang masih memiliki nilai ekonomi.

Selain menjadi panduan praktis, kegiatan ini juga menindaklanjuti Peraturan Bupati Nomor 9 Tahun 2026 tentang Pengelolaan Sampah di Desa.

Melalui aturan tersebut, Pemerintah Kabupaten Boyolali mendorong setiap rumah tangga untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sampah.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Boyolali, Suraji, S.T., M.Si., mengatakan, gerakan Homepimpah berupaya menumbuhkan kesadaran warga untuk mengelola sampah dari rumah.

Menurut Suraji, program ini memberikan panduan agar warga tidak lagi memandang sampah hanya sebagai limbah.

Sebaliknya, warga dapat mengubahnya menjadi sumber daya yang bermanfaat bagi lingkungan dan kehidupan sehari-hari.

“Melalui Homepimpah, warga belajar mengenali jenis sampah, mengurangi sampah dari rumah, memakai ulang barang yang masih layak pakai, serta mendaur ulang sampah yang bernilai ekonomi,” ujar Suraji.

Karena itu, Suraji menilai pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dalam menangani persoalan sampah.

Warga perlu membangun kesadaran untuk mewujudkan lingkungan yang bersih dan sehat melalui pemilahan dan pengolahan sampah rumah tangga.

Dimotori Kaum Perempuan

Namun, bagi warga RT 06, gerakan memilah sampah bukanlah hal baru. Sebelum sosialisasi Homepimpah berjalan, para ibu di lingkungan itu sudah lebih dulu mendirikan bank sampah sejak masa pandemi Covid-19 pada 2020 lalu.

Inisiatif tersebut lahir dari pengalaman sehari-hari. Perempuan paling dekat dengan sumber sampah rumah tangga: dapur, sisa makanan, plastik belanja, kardus, botol, hingga minyak jelantah. Karena itu, para perempuan melihat bahwa sampah bukan hanya persoalan kebersihan, tetapi juga peluang untuk membangun kemandirian warga.

Dari kesadaran itu, Bank Sampah RT 06 berkembang menjadi ruang bersama. Para ibu tidak hanya mengajak warga memilah sampah.

Mereka juga mengelola sampah bernilai ekonomi serta menjaga kebersihan dan keindahan kampung.

Manfaat Ekonomi dan Ketahanan Pangan

Setiap rumah tangga di RT 06 menyetor sampah bernilai ekonomi. Setelah itu, pengelola bank sampah  menimbang, mencatat, menjual dan mendaur ulang sampah nonorganik.

Kebun gizi yang dikelola warga, bentuk ketahanan pangan di lingkup RT
Kebun gizi yang dikelola warga, bentuk ketahanan pangan di lingkup RT. (foto Zaki Faddad)

Warga tidak memakai hasil penjualan untuk kepentingan pribadi, tetapi menyimpannya sebagai kas bersama.

Menurut Sri, 43 kepala keluarga di RT 06 ikut terlibat. Dalam setahun, bank sampah itu mampu mengumpulkan sekitar Rp 4 juta.

“Dalam setahun bisa terkumpul mungkin lebih dari Rp 4 juta,” kata Sri.

Manfaatnya pun terasa dalam kehidupan warga. Lingkungan menjadi lebih bersih karena setiap rumah mulai memilah sampah sejak awal.

Selain itu, hasil penjualan barang bekas juga digunakan untuk membeli kebutuhan kampung seperti tempat sampah untuk seluruh warga, umbul-umbul hadiah lomba, hingga piknik bersama.

Di sekitar bank sampah, warga mengelola kebun gizi. Di lahan tersebut, mereka menanam bumbu dapur, sayuran, buah-buahan, tanaman obat, hingga kolam lele.

Sementara itu, untuk menyuburkan tanaman, warga memanfaatkan sampah organik dan ecoenzym sebagai pupuk.

Dengan cara ini, pengelolaan sampah tidak berhenti pada kegiatan memilah dan menjual. Warga juga membangun ketahanan pangan sederhana melalui kebun gizi.

Makin Kreatif Setelah Homepimpah

Setelah mengikuti sosialisasi Homepimpah, warga menjadi semakin kreatif. Ibu-ibu mulai membuat lilin dan sabun dari minyak jelantah.

Mereka mengumpulkan minyak bekas memasak, lalu mengolahnya menjadi produk yang lebih bermanfaat.

Selain itu, kreativitas lain muncul menjelang lomba gerak jalan memperingati 17 Agustus di tingkat RW.

Warga menyiapkan kostum dari sampah plastik. Mereka berharap RT 06 tampil dengan seragam yang paling unik.

Melalui kegiatan itu, warga tidak lagi memandang sampah sebagai barang sisa. Sebaliknya, selain menambah kas, mereka memanfaatkannya untuk pupuk, sabun, lilin, hingga karya kreatif.

Kerja para ibu kini mendapat perhatian yang lebih luas. Tahun ini, Bank Sampah Melati 1 akan mewakili Kecamatan Boyolali dalam percontohan bank sampah yang diselenggarakan oleh Pemerintah Kabupaten Boyolali.

Dinas Lingkungan Hidup Boyolali terus mendorong lahirnya komunitas peduli sampah dari tingkat RT, RW, hingga tingkat kampung.

Suraji menyebut gerakan ini sebagai bagian dari penguatan Proklim atau Program Kampung Iklim.

Proklim membentuk komunitas yang sadar lingkungan dan ikut memitigasi perubahan iklim. Dalam konteks itu, pengelolaan sampah rumah tangga menjadi pintu masuk yang paling dekat bagi warga.

Kisah RT 06/RW 09 Surodadi menunjukkan bahwa aksi lingkungan bisa tumbuh dari hal-hal sederhana: gazebo kecil, dapur rumah tangga, kebun gizi, dan kebiasaan memilah sampah setiap hari.

Pada akhirnya, perempuan berada di garis depan dalam mengantisipasi perubahan iklim. Dari kerja sederhana itu, mereka ikut menentukan masa depan melalui tindakan kecil yang dimulai dari lingkungan terdekat: rumah dan kampung. (*)

 

 

 

 

 

Bagikan Tulisan Ini