Kisah KH Ahmad Dahlan dan Polisi: Ketika Pengajian Diancam, Sang Kiai Justru Mengingatkan Tugas Polisi

Penulis: 
Repro ilustrasi oleh dulls

KYAIMENTERI.ID – Sebuah kisah menarik tentang KH Ahmad Dahlan kembali disampaikan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti.

Kisah tersebut menggambarkan bagaimana KH Ahmad Dahlan menghadapi ancaman pembunuhan ketika hendak menyampaikan pengajian di sebuah tempat di Banyuwangi pada masa kolonial Belanda.

Abdul Mu’ti atau yang biasa disapa Kyai Menteri ini menuturkan, kisah itu tercatat dalam buku Riwayat Hidup KH Ahmad Dahlan. Saat itu, sebagian masyarakat setempat mengetahui rencana kedatangan KH Ahmad Dahlan untuk mengisi pengajian.

Namun, kehadiran tokoh pendiri Muhammadiyah tersebut ternyata mendapat penolakan keras. Bahkan, sejumlah orang mengancam akan membunuh KH Ahmad Dahlan jika tetap melaksanakan pengajian.

Mendengar adanya ancaman tersebut, seorang polisi mendatangi KH Ahmad Dahlan di tempat penginapannya. Polisi itu menyampaikan situasi yang terjadi sekaligus meminta sang kiai membatalkan pengajian demi alasan keamanan.

Alih-alih takut atau langsung memenuhi permintaan polisi tersebut, KH Ahmad Dahlan justru mengajak polisi itu berpikir mengenai tugas dan tanggung jawabnya.

“Apa tugas Bapak sebagai polisi?” tanya KH Ahmad Dahlan.

“Menjaga keamanan dan mencegah kejahatan,” jawab sang polisi tegas.

KH Ahmad Dahlan kemudian melanjutkan pertanyaannya.

“Pengajian itu baik atau tidak?”

“Baik, Kiai,” jawab polisi tersebut.

“Kalau membunuh orang, baik atau tidak?”

“Itu kejahatan. Tidak baik, Kiai,” jawabnya.

KH Ahmad Dahlan kemudian menyampaikan sebuah pesan yang sederhana, tetapi sangat tajam.

Menurutnya, jika tugas polisi adalah menjaga keamanan dan mencegah kejahatan, maka yang seharusnya dicegah adalah orang-orang yang hendak melakukan kejahatan, termasuk mereka yang mengancam akan membunuh.

Bukan justru orang yang hendak menyampaikan pengajian dan mengajak masyarakat kepada kebaikan.

Mendengar penjelasan tersebut, sang polisi terdiam. Pada akhirnya, pengajian KH Ahmad Dahlan tetap dilaksanakan.

Kisah tersebut bukan sekadar cerita tentang keberanian seorang ulama menghadapi ancaman. Di dalamnya terdapat pesan tentang bagaimana hukum, keamanan, dan tugas aparat seharusnya ditempatkan untuk melindungi masyarakat serta mencegah terjadinya kejahatan.

Kisah KH Ahmad Dahlan dengan polisi pada zaman kolonial Belanda itu kemudian menjadi bahan renungan.

Sebab, pertanyaan yang muncul bukan hanya tentang apa yang terjadi pada masa lalu, melainkan juga bagaimana tugas aparat penegak hukum dijalankan pada masa sekarang. (*)

 

(Disadur dari buku berjudul Guyon Maton karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022)

Bagikan Tulisan Ini