BA Aisyiyah Penaruban Terkendala Lahan Wakaf, Fasilitas Belajar Masih Terbatas

Penulis: Kusworo | Editor: Budi Supriyantoro
Hingga kini Bustanul Athfal (BA) Aisyiyah Penaruban, Kabupaten Purbalingga, masih menempati lahan wakaf milik MI Muhammadiyah Penaruban. Kondisi itu menjadi salah satu kendala bagi sekolah dalam mengembangkan fasilitas maupun sarana pendukung pembelajaran. [foto/kusworo]

PURBALINGGA, KYAIMENTERI.ID – Puluhan tahun berdiri, Bustanul Athfal (BA) Aisyiyah Penaruban, Kabupaten Purbalingga, masih menghadapi keterbatasan lahan dan sarana prasarana. Hingga kini, kegiatan belajar mengajar sekolah tersebut masih berlangsung di atas lahan wakaf milik MI Muhammadiyah Penaruban.

Kondisi itu menjadi salah satu kendala bagi sekolah dalam mengembangkan fasilitas maupun sarana pendukung pembelajaran.

Kepala BA Aisyiyah Penaruban, Afidah Esti Winarni, mengatakan lembaga pendidikan tersebut telah berdiri sejak 3 Januari 1968. Namun, hingga saat ini kegiatan belajar mengajar masih menempati lahan wakaf yang digunakan bersama dengan MI Muhammadiyah Penaruban.

“Untuk pengembangannya memang susah karena lahannya ngepas. Kami hanya diberikan dua lokal, sementara sisanya untuk ruang bermain anak dan halaman depan,” ujar Afidah saat ditemui, Senin (10/8/2026).

Menurutnya, keterbatasan lahan membuat sekolah kesulitan menambah ruang yang dibutuhkan untuk menunjang kegiatan belajar mengajar. Saat ini BA Aisyiyah Penaruban hanya memiliki dua ruang kelas, sedangkan sebagian lahan lainnya dimanfaatkan sebagai area bermain anak dan halaman.

Tidak hanya lahan, keterbatasan sarana dan prasarana juga masih menjadi perhatian sekolah. Saat ini, BA Aisyiyah Penaruban memiliki dua unit laptop, satu televisi pintar yang digunakan untuk mendukung pembelajaran siswa, serta printer.

Sebagian besar peralatan tersebut diperoleh secara mandiri dengan memanfaatkan dana operasional sekolah.

Kondisi meja dan kursi siswa pun belum sepenuhnya memadai. Sejumlah meja dan kursi mengalami kerusakan sehingga jumlah fasilitas yang dapat digunakan menjadi terbatas.

Afidah mengakui, kondisi tersebut sedikit banyak turut memengaruhi proses pembelajaran. Meski demikian, pihak sekolah terus berupaya memenuhi kebutuhan sarana dan prasarana secara bertahap sesuai dengan kemampuan yang dimiliki.

Jumlah Siswa Menurun

Tak hanya itu, persoalan lain yang dihadapi BA Aisyiyah Penaruban menurunnya jumlah peserta didik dalam beberapa tahun terakhir.

Jika sebelumnya jumlah siswa pernah mencapai lebih dari 50 anak, kini jumlah peserta didik kurang dari 20 siswa.

Menurut Afidah, penurunan jumlah siswa dipengaruhi sejumlah faktor. Salah satunya semakin banyak pilihan lembaga pendidikan yang tersedia bagi orang tua untuk menyekolahkan anaknya.

Karena itu, pihak sekolah terus berupaya menarik minat masyarakat melalui berbagai kegiatan dan program pendidikan yang dimiliki.

Meski berada dalam keterbatasan, BA Aisyiyah Penaruban tetap mampu mencatat sejumlah prestasi. Sekolah beberapa kali meraih kejuaraan dalam berbagai perlombaan, baik di tingkat kecamatan maupun kabupaten.

“Kalau ada lomba-lomba di tingkat kabupaten, kami pernah mendapatkan juara. Di tingkat kecamatan juga insyaallah BA selalu mendapatkan kejuaraan,” tegas Afidah.

Berupaya Mencari Bantuan

Sementara untuk mendukung pengembangan sekolah, pihak BA Aisyiyah Penaruban juga aktif mencari bantuan secara mandiri. Hingga kini, bantuan pemerintah melalui Kementerian Agama belum pernah diterima secara langsung.

Sekolah lebih banyak mengandalkan pengajuan proposal serta mengakses bantuan melalui berbagai jalur, termasuk dana aspirasi.

Ke depan, Afidah berharap BA Aisyiyah Penaruban dapat memiliki lahan wakaf sendiri. Dengan lahan tersebut, sekolah dapat membangun fasilitas secara lebih leluasa dan memiliki lingkungan belajar yang terpisah dari MI Muhammadiyah Penaruban.

“Harapannya punya tanah wakaf sendiri, kemudian bisa dibangun di situ secara tersendiri, sehingga lepas dari MI. Karena kalau bercampur dengan anak-anak tingkat atas juga kurang kondusif,” ujarnya.

Harapan tersebut menjadi bagian dari ikhtiar BA Aisyiyah Penaruban untuk terus berkembang. Dengan memiliki lahan sendiri, sekolah diharapkan dapat menghadirkan fasilitas yang lebih memadai sekaligus menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan mendukung tumbuh kembang anak-anak. (*)

Bagikan Tulisan Ini