BLORA, KYAIMENTERI.ID — Hari Belajar Guru (HBG) harus menjadi momentum untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat di kalangan pendidik.
Menjadi guru tak cukup hanya piawai mengajar. Di tengah perubahan kurikulum dan dinamika pendidikan yang terus bergerak, guru dituntut terus belajar, berkarakter, disiplin, serta mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan.
Pesan tersebut mengemuka dalam pembukaan Kelompok Kerja Guru (KKG) Kecamatan Tunjungan yang mengusung tema “Karakter Kuat, Disiplin Hebat, Pendidikan Bermartabat” di Aula Gedung PGRI, Kabupaten Blora, Sabtu (8/10/2026)
Kegiatan yang dimulai pukul 11.00 itu diikuti seluruh kepala sekolah dan guru kelas se-Kecamatan Tunjungan. Hadir pula para pengawas sekolah se-Korwilbidik Kecamatan Tunjungan.
Koordinator Wilayah (Korwil) Bidang Pendidikan Kecamatan Tunjungan, Tunggal Rizki Susiawanti, menegaskan bahwa Hari Belajar Guru (HBG) harus menjadi momentum untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat di kalangan pendidik.
Menurutnya, kegiatan komunitas belajar tidak harus berlangsung secara kaku. Pelaksanaannya dapat dilakukan secara fleksibel dengan tetap berpedoman pada prinsip yang berorientasi pada kebutuhan pembelajaran.
Ada tiga prinsip penting yang perlu diperhatikan. Pertama, kegiatan harus berdampak langsung kepada murid, kedua realistis dan terukur, serta ketiga adaptif terhadap kurikulum.
KKG Jadi Ruang Tumbuh Bersama bagi Para Guru
Dalam konteks tersebut, KKG diharapkan tidak berhenti sebagai forum administratif atau sekadar memenuhi kewajiban. KKG harus menjadi ruang tumbuh bersama bagi para guru.
“KKG sebagai bengkel perjuangan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban. Ini wadah untuk saling mengisi, berbagi, dan menginspirasi demi peningkatan kualitas pembelajaran,” ujar Tunggal melalui keterangannya yang diterima Kyaimenteri.id Senin (10/8/2026).
Pesan serupa disampaikan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Blora yang diwakili Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan (GTK), Kariyono, S.T., M.T.
Ia mengingatkan para guru agar pelaksanaan Hari Belajar Guru senantiasa mengacu pada regulasi yang berlaku. Pengembangan kompetensi guru harus berjalan seiring dengan pemenuhan hak belajar peserta didik.
“Jangan sampai kegiatan guru justru mengganggu pembelajaran dan menelantarkan murid,” tegasnya.
Karena itu, setiap satuan pendidikan perlu menyusun program berdasarkan prioritas kebutuhan. Program tersebut harus disertai jadwal pelaksanaan dan mekanisme pelaporan yang jelas.
Penguatan Kode Etik dan Disiplin
Pada kesempatan itu hadir pula dari Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kabupaten (BKPSDM) Blora, Era Aromatica KD, S.H., M.M.
Dia sebagai narasumber untuk memberikan penguatan mengenai kode etik, integritas, dan disiplin guru.
Era Aromatica mengingatkan pentingnya mematuhi sembilan poin Kode Etik Guru Indonesia dalam menjalankan tugas profesional.
Kode etik bukan sekadar aturan tertulis, tetapi menjadi pedoman moral dalam menjalankan profesi pendidik.
Menurutnya, guru tidak cukup hanya memiliki kemampuan akademik dan keterampilan mengajar.
Guru juga harus menjadi pribadi yang berintegritas, disiplin, berkarakter mulia, serta memahami regulasi.
“Guru bukan hanya harus cerdas mengajar, tetapi juga berintegritas, disiplin, berkarakter mulia, dan paham regulasi,” ujarnya.
Pesan tersebut menjadi semakin relevan karena guru merupakan salah satu figur utama dalam pembentukan karakter peserta didik.
Keteladanan guru dalam disiplin, tanggung jawab, dan integritas akan menjadi bagian dari pembelajaran yang dilihat langsung oleh murid.
Karena itu, transformasi pendidikan tidak hanya membutuhkan perubahan perangkat pembelajaran. Lebih dari itu, dibutuhkan perubahan budaya kerja dan budaya belajar di kalangan pendidik.
KKG Kecamatan Tunjungan diharapkan mampu menjadi salah satu ruang strategis untuk membangun perubahan tersebut.
Guru dapat saling berbagi praktik baik, merefleksikan pembelajaran, sekaligus mencari solusi atas persoalan yang dihadapi di kelas.
Pada akhirnya, karakter kuat, disiplin hebat, dan pendidikan bermartabat bukan sekadar tema kegiatan.
Ketiganya merupakan fondasi penting untuk membangun guru yang terus belajar dan pendidikan yang benar-benar memberikan dampak bagi murid.









