Cegah Narkoba Masuk Lingkungan Sekolah, 50 Murid SMAN 1 Baros Jalani Edukasi dan Skrining

Penulis: Ahmad Herdi | Editor: Syaifudin
Puluhan murid SMAN 1 Baros mengikuti edukasi dan skrining penyalahgunaan narkotika melalui Program SINARI BNN Provinsi Banten. (Foto: istimewa)

SERANG, KYAIMENTERI.ID – Ancaman penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja menjadi perhatian serius, terutama karena pelajar merupakan salah satu kelompok yang rentan terpapar peredaran gelap narkoba.

Upaya pencegahan dinilai perlu dilakukan sejak dini. Bukan hanya dengan memberikan pemahaman, tetapi juga memastikan siswa mendapatkan ruang yang aman untuk memperoleh bantuan apabila berisiko terpapar narkotika.

Hal tersebut dilakukan di SMAN 1 Baros, Kabupaten Serang. Sebanyak 50 siswa kelas XI mengikuti edukasi sekaligus skrining penyalahgunaan narkotika yang dilaksanakan Badan Narkotika Nasional (BNN) Provinsi Banten melalui Program SINARI.

Tingkatkan Kewaspadaan Bahaya Narkotika

Kegiatan ini menjadi pelaksanaan tahun kedua Program SINARI di SMAN 1 Baros. Para siswa mengikuti sejumlah tahapan, mulai dari penyuluhan mengenai bahaya narkoba, skrining, hingga asesmen.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala SMAN 1 Baros, Nandang Safrudin mengatakan, kegiatan tersebut penting untuk membekali siswa dengan pengetahuan sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap bahaya narkotika.

Menurutnya, usia remaja menjadi masa yang membutuhkan perhatian lebih karena lingkungan pergaulan dapat memberikan pengaruh besar terhadap perilaku siswa.

“Kami berharap setelah mengikuti kegiatan ini wawasan siswa semakin meningkat sehingga mereka lebih memahami dampak negatif narkoba dan tidak sampai terjerumus dalam penyalahgunaannya,” ujar Nandang Safrudin yang juga menjabat Kepala SMAN 1 Cikeusal, saat diwawancarai, Minggu (9/8/2026).

Dalam pelaksanaannya, Program SINARI tidak hanya berorientasi pada pemeriksaan.

Kedepankan Pencegahan dan Pendampingan

Program yang merupakan singkatan dari Strategi Penanganan Korban Penyalahgunaan Narkotika pada Anak Usia Sekolah Melalui Layanan Skrining dan Asesmen Narkotika Terintegrasi di Sekolah ini, juga mengedepankan pendekatan pencegahan dan pendampingan.

Skrining dilakukan melalui tes urine dan wawancara. BNN menegaskan, pemeriksaan tersebut bukan untuk mencari kesalahan atau menghukum siswa, melainkan sebagai langkah deteksi dini agar pelajar yang membutuhkan bantuan dapat segera mendapatkan penanganan.

Koordinator Rehabilitasi BNN Provinsi Banten, Yanwar Sadewa mengatakan, siswa tidak perlu takut mengikuti proses skrining. Sebab, apabila ditemukan indikasi penyalahgunaan, pendekatan yang diberikan lebih diarahkan pada pemulihan dan rehabilitasi.

Identitas Peserta Dijamin Aman

“Kami bukan mau nangkep adik-adik. Kalau ada yang membutuhkan bantuan, kami dorong untuk direhabilitasi. Kalaupun menangkap, kami mengejar bandar atau pelaku besar. Identitas peserta juga kami jamin aman, jadi tidak perlu khawatir,” tegasnya.

Selain petugas BNN, peran guru Bimbingan Konseling (BK) juga diperkuat dalam program tersebut.

Guru BK yang telah mendapatkan pelatihan diharapkan mampu menjadi pihak yang dekat dengan siswa ketika menghadapi persoalan maupun membutuhkan pendampingan.

Kerahasiaan identitas peserta juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan skrining. Dengan jaminan tersebut, siswa diharapkan tidak merasa takut atau mendapat stigma ketika membutuhkan bantuan.

Perkuat Kolaborasi Antar Sekolah

Melalui pelaksanaan Program SINARI, BNN bersama pihak sekolah berupaya membangun kesadaran bahwa pencegahan narkoba bukan hanya soal pemeriksaan.

Program ini juga menciptakan lingkungan sekolah yang membuat murid berani berbicara, mendapatkan pendampingan, dan mengambil keputusan yang tepat untuk masa depannya.

Program yang mengusung semangat “Bersinar, Bersih dari Narkoba” ini diharapkan dapat memperkuat kolaborasi antara sekolah, keluarga, dan pemerintah dalam menjaga generasi muda Banten agar tetap sehat, berprestasi, dan jauh dari penyalahgunaan narkotika. (*)

 

 

Bagikan Tulisan Ini