SEMARANG, KYAIMENTERI.ID – Kabupaten Banyumas dan Jepara, menorehkan sejarah baru di dunia pendidikan Indonesia. Dua kabupaten ini, menjadi pionir Sekolah Nasional Terintegrasi (SNT) di Jawa Tengah (Jateng).
SNT merupakan program prioritas pemerintah menjaring generasi unggul untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Tahun ini, kedua sekolah yang diproyeksikan sebagai pencetak generasi berkemampuan global ini, membuka pendaftaran melalui Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB).
Pendaftaran dimulai 21 -27 Juli 2026, dilanjutkan proses seleksi pada tanggal 27 – 31 Juli 2026. Hasilnya akan diumumkan 3 Agustus 2026. Sedangkan pendaftaran ulang dimulai 4 – 7 Agustur 2026.
Tiap Jenjang Menerima Dua Rombel
Kepala Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan (BBPMP) Provinsi Jateng, Nugraheni Triastuti mengatakan, pada tahun ajaran 2026/2027 ini, ada 17 SNT yang siap beroperasi. Jumlah itu tersebar di 14 provinsi di Indonesia.
“Dua di antaranya di Jateng. Satu di Kabupaten Banyumas, satunya lagi di Kabupaten Jepara,” ungkap Nugraheni Triastuti saat dihubungi kyaimenteri.id melalui sambungan telepon, Sabtu (25/7/2026).
Wanita yang akrab disapa Heni ini menjelaskan, kedua SNT di Jateng ini akan menerima masing-masing dua rombongan belajar (rombel) untuk tingkat Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan Sekolah Menengah Atas (SMA). Masing-masing rombel 20 orang.
Sementara Manfaatkan Sekolah Transit
Ia mengungkapkan, karena gedung baru masih dalam proses pembangunan, murid SNT angkatan pertama di Jateng akan ditempatkan di sekolah transit. SNT Kabupaten Banyumas akan menggunakan bekas gedung SMPN 1 Kalibagor sebagai sekolah transit.

Sedangkan SNT Kabupaten Jepara akan menempati Balai Latihan Kerja (BLK) Pecangaan. Sedangkan gedung permanen akan dibangun di sebelah Sekolah Rakyat (SR).
“Bagi yang siap beroperasi tahun ini, Pemda (Pemerintah Daerah-red) memang berkewajiban menyiapkan sekolah transit untuk menunjang kelancaran proses belajar mengajar,”ujarnya.
SNT Gunakan Tiga Lapis Kurikulum
Menurut dia, sekolah yang berada di bawah pengelolaan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) ini, memiliki perbedaan pada sisi kurikulum jika dibandingkan dengan sekolah reguler.
Jika sekolah reguler menggunakan kurikulum nasional standar, maka SNT menerapkan kurikulum nasional yang diperkaya, serta fokus pada kompetensi global maupun sains dan teknologi.
Itu sebabnya, SNT menerapkan tiga lapis kurikulum, meliputi :
- Kurikulum Nasional sebagai fondasi
- Kurikulum Kekhasan Sekolah sebagai penguat
- Kurikulum Berbasis Konteks lokal sebagai pengaya
Dia menjelaskan, Kurikulum Nasional menjadi standar utama arah dan capaian pembelajaran nasional, serta dasar untuk penerapan metode pembelajaran mendalam (deep learning).
Sedangkan Kurikulum Kekhasan Sekolah bertujuan untuk mengembangkan karakter dan program unggulan sekolah menggunakan pendekatan Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and sports (STEAMS).
Dirancang dengan Standar Internasional
“Kurikulum SNT dirancang dengan standar internasional dan pendekatan pembelajaran mendalam berbasis STEAMS,” jelasnya.
Untuk mendukung ketiga lapis kurikulum tersebut, SNT didukung berbagai saran penunjang.
“Ada banyak sarana yang disediakan untuk menunjang pengembangan skil murid seperti smart classroom yang semuanya berbasis digital. Anak-anak juga disediakan laptop untuk menunjang kelancaran belajar,” ungkapnya.
Fasilitas lainnya antara lain laboratorium modern kelas dunia, pusat kreativitas murid serta lahan pertanian dan peternakan untuk mengembangkan skill murid.
Selain untuk murid, ada juga ruang diskusi guru. Tak hanya guru di SNT, tetapi juga guru di sekitanya. Misalnya para guru yang tergabung dalam Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP).
“Ada juga work space (ruang kerja) untuk guru di luar SNT,” paparnya.
Siap Bersaing di Tingkat Internasional
Dia menambahkan, SNT memang dirancang untuk mempersiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang memiliki kemampuan akademik maupun non akademik global.
Karena itu, mereka memang disiapkan sejak dini dalam berbagai pengetahuan dan keterampilan, termasuk kemampuan penguasaan bahasa asing.
Lulusan SNT juga dipersiapkan menjadi calon penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) untuk studi lanjut ke luar negeri.
“Setelah lulus SMA mereka dipersiapkan untuk mendapatkan beasiswa ke luar negeri melalui LPDP. Anak-anak harus mampu menjadi lulusan yang bisa bersaing di tingkat internasional, baik dalam bidang akademik maupun non akademik,” imbuhnya.









