Akronim Haji Ala Kyai Menteri Mu’ti: Dari Haji Mabrur hingga Haji Tomat, Bikin Tersenyum Sekaligus Merenung

Penulis: 
ilustrasi [abdul syakur]

MALANG, KYAIMENTERI.ID – Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti membagikan sederet akronim unik dan jenaka tentang ibadah haji. Dengan gaya khas yang ringan namun sarat makna, ia menggambarkan berbagai fenomena yang berkembang di masyarakat terkait mereka yang menunaikan rukun Islam kelima.

Menurut Kyai Menteri Mu’ti ini, dibandingkan ibadah lainnya, haji memiliki banyak sebutan yang lahir dari pengalaman, tradisi, hingga cara masyarakat memandang para penyandang gelar haji. Di balik kelucuannya, akronim-akronim tersebut juga mengandung pesan moral agar ibadah haji benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan.

“Haji memang ibadah yang paling banyak sebutannya. Berbagai istilah itu menunjukkan bagaimana masyarakat memberikan penilaian terhadap orang yang sudah menunaikan ibadah haji,” ujar Kyai Menteri Mu’ti.

Di antara berbagai istilah tersebut, Haji Mabrur tetap menjadi predikat yang paling didambakan umat. Sebutan ini diberikan kepada mereka yang hajinya diterima Allah SWT, ditandai dengan perubahan akhlak menjadi lebih baik, serta dijanjikan balasan surga.

Namun, di tengah masyarakat juga berkembang berbagai akronim yang mengundang senyum.

Ada Haji Mansur, singkatan dari haji halamannya kena gusur. Sebutan ini menggambarkan seseorang yang berangkat haji setelah memperoleh uang ganti rugi akibat halaman rumahnya tergusur.

Kemudian Haji Wahyu, yang berarti haji mergo sawahe payu atau berangkat haji setelah menjual sawah.

Tak kalah menarik adalah Haji Abidin, yakni haji atas biaya dinas. Sebutan ini ditujukan kepada mereka yang berangkat sebagai petugas penyelenggara ibadah haji.

Ada pula Haji Kosasih, akronim dari haji dengan ongkos dikasih, yaitu mereka yang dapat berangkat karena memperoleh hadiah atau pembiayaan dari lembaga maupun seseorang.

Sementara Haji Sokeh berarti haji disokong wong akeh, yakni biaya hajinya ditanggung banyak orang. Sedangkan Haji Somat merupakan singkatan dari haji disokong umat, menggambarkan seseorang yang berangkat menggunakan bantuan jamaah atau masyarakat.

Lalu, Kyai Menteri Mu’ti juga menyelipkan kritik sosial melalui beberapa istilah lain. Misalnya Haji Tamatu, yang dipelesetkan menjadi haji tangi mangan turu, yaitu jamaah yang selama di Tanah Suci hanya bangun, makan, dan tidur tanpa memaksimalkan ibadah di Tanah Suci.

Ada pula Haji Tomat, singkatan dari haji teko maksiate kumat. Istilah ini menyindir orang yang telah berhaji, tetapi setelah pulang justru kembali melakukan perbuatan maksiat sehingga nilai hajinya tidak tercermin dalam perilaku sehari-hari.

Bagi kalangan media, Kyai Menteri Mu’ti memperkenalkan istilah Haji Kamlan, yaitu haji kameramen dan peliputan. Sebutan ini ditujukan bagi wartawan atau pekerja media yang bertugas meliput penyelenggaraan ibadah haji di Tanah Suci.

Terakhir, ada Haji Hamim, kependekan dari haji hanya mimpi. Sebutan ini menggambarkan mereka yang telah lama mendaftar atau bercita-cita berhaji, tetapi hingga kini belum mendapat kesempatan berangkat, termasuk karena berbagai kendala seperti pembatalan keberangkatan.

Meski disampaikan dengan nuansa humor, deretan akronim tersebut mengandung pesan mendalam bahwa gelar haji bukan sekadar simbol atau status sosial. Yang lebih utama adalah bagaimana ibadah itu mampu membentuk pribadi yang lebih bertakwa, berakhlak mulia, dan membawa manfaat bagi sesama.

Lantas, jika melihat berbagai akronim tersebut, Anda termasuk kategori haji yang mana? Atau justru masih berjuang menjadi Haji Mabrur, predikat yang menjadi cita-cita setiap muslim yang menunaikan ibadah haji. (*)

Bagikan Tulisan Ini