Teh Panas Rp2.000, Teh Dingin Rp3.000: Kisah Lucu Mahasiswa yang Mengajarkan Kejujuran

Penulis: 

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID – Di tengah berbagai tantangan kehidupan mahasiswa, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti membagikan sebuah kisah ringan yang sarat makna tentang kejujuran, kedisiplinan, dan kesederhanaan.

Cerita itu berkisah tentang seorang mahasiswa yang hidup dengan uang saku pas-pasan. Suatu hari, ia mendatangi sebuah warung rakyat untuk membeli minuman. Uang yang ada di saku celana pendeknya hanya tersisa Rp2.000.

Dengan langkah ragu-ragu, mahasiswa tersebut masuk ke warung dan bertanya kepada pemilik warung.

“Bu, kalau teh panas berapa?” tanyanya.

“Teh panas Rp2.000,” jawab sang ibu warung.

Mahasiswa itu kemudian kembali bertanya, “Kalau teh dingin?”

“Teh dingin Rp3.000,” sahut si ibu.

Mendengar harga tersebut, mahasiswa itu pun segera memutuskan untuk memesan minuman. “Saya beli teh panas, Bu.”

Tak lama kemudian, segelas teh panas tersaji di hadapannya. Namun, sesuatu yang tak biasa terjadi. Begitu teh panas itu datang, mahasiswa tersebut langsung meminumnya dengan tergesa-gesa hingga hampir habis.

Sang ibu warung yang melihat kejadian itu pun merasa heran.

“Mas, tehnya masih panas kok langsung diminum?” tanyanya.

Mahasiswa itu menjawab dengan polos. “Ya, Bu. Takut keburu dingin.”

Jawaban itu membuat ibu warung semakin penasaran.

“Memang kenapa kalau dingin?” lanjutnya.

Dengan wajah serius, mahasiswa tersebut menjawab. “Kalau sudah dingin harganya Rp3.000, sementara saya cuma punya uang Rp2.000.”

Mendengar jawaban itu, sang ibu warung tak kuasa menahan senyum. Logika sederhana mahasiswa tersebut memang mengundang tawa, tetapi di balik kelucuannya tersimpan pesan yang menarik. Ia tetap berusaha membeli sesuai kemampuan dan tidak ingin melanggar aturan harga yang diketahuinya.

Kisah yang dibagikan Kyai Menteri Abdul Mu’ti ini memang hanya sebuah cerita ringan. Namun, cerita tersebut menggambarkan bagaimana kejujuran dan kedisiplinan dapat hadir dalam bentuk yang sederhana, bahkan melalui percakapan santai di sebuah warung rakyat. (*)

Cerita ini disadur dari buku ‘Guyon Maton’ karangan Abdul Mu’ti, cetakan II: Oktober 2022

Bagikan Tulisan Ini