JAKARTA, KYAIMENTERI.ID — Komitmen Muhammadiyah dalam membangun peradaban yang inklusif, berkeadilan, dan ramah bagi semua kembali diteguhkan melalui Pengajian Ahad yang diselenggarakan Himpunan Difabel Muhammadiyah (HIDIMU) di Masjid At-Tanwir Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya No. 62, Jakarta, Minggu (14/6).
Kegiatan yang diikuti jamaah difabel netra dan difabel tuli tersebut menjadi ruang penguatan spiritual sekaligus menegaskan bahwa setiap warga Persyarikatan memiliki hak yang sama untuk beribadah, belajar, dan berkontribusi dalam dakwah kemanusiaan.
Suasana khidmat terasa sejak awal acara. Pembukaan diawali dengan pembacaan ayat suci Alqur’an Braille oleh Sunarto, seorang difabel netra yang aktif dalam berbagai kegiatan HIDIMU. Lantunan ayat suci yang dibacakan melalui mushaf Braille menjadi simbol bahwa keterbatasan fisik tidak pernah menjadi penghalang untuk mendekatkan diri kepada Alqur’an dan mengamalkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari.
Ketua HIDIMU, Fajri Hidayatullah, menjelaskan pengajian ini merupakan bagian dari upaya memperkuat keimanan, mempererat persaudaraan, sekaligus membangun ruang belajar yang inklusif bagi seluruh warga difabel Muhammadiyah.
“Kami ingin memastikan bahwa setiap difabel memiliki ruang yang setara untuk bertumbuh dalam iman, ilmu, dan pengabdian. Pengajian ini bukan sekadar kegiatan rutin keagamaan, tetapi juga ikhtiar membangun kesadaran bahwa difabel adalah bagian utuh dari umat dan Persyarikatan. Muhammadiyah harus menjadi rumah bersama yang menghadirkan akses, kesempatan, dan penghormatan terhadap martabat setiap manusia,” ujar Fajri.
Menurutnya, HIDIMU selama ini telah menjadi wadah berhimpun, berjejaring, serta mengembangkan potensi warga Muhammadiyah penyandang disabilitas dari berbagai daerah. Beragam program pemberdayaan, pelatihan kepemimpinan, advokasi kebijakan, hingga partisipasi dalam forum nasional dan internasional telah dijalankan secara berkelanjutan.
Bahkan, tidak sedikit anggota HIDIMU yang kini dipercaya menjadi pemimpin organisasi disabilitas maupun narasumber di berbagai forum kementerian, lembaga, dan perusahaan, baik di tingkat nasional maupun daerah.
Salah satu bentuk layanan inklusif yang disediakan dalam pengajian tersebut adalah kehadiran penerjemah bahasa isyarat bagi jamaah tuli. Layanan ini memungkinkan seluruh materi pengajian dapat dipahami secara utuh oleh peserta tuli sekaligus menjadi contoh praktik baik bagaimana masjid dan ruang dakwah dapat lebih ramah terhadap seluruh lapisan masyarakat.
Bagi komunitas tuli, bahasa isyarat bukan sekadar fasilitas tambahan, melainkan sarana utama untuk memperoleh hak atas informasi dan pendidikan keagamaan. Tanpa akses komunikasi yang memadai, penyandang tuli berisiko terpinggirkan dari berbagai aktivitas keagamaan dan kehidupan sosial. Karena itu, penyediaan layanan bahasa isyarat merupakan bagian penting dalam mewujudkan keadilan dan kesetaraan dalam beribadah.

Muhammadiyah Perkuat Gerakan Inklusi
Pimpinan Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) PP Muhammadiyah, Dedi Warman, yang membuka kegiatan tersebut menegaskan bahwa Muhammadiyah memiliki tanggung jawab moral dan keagamaan untuk memastikan seluruh amal usaha dan kegiatan Persyarikatan semakin inklusif.
“Ukuran kemajuan sebuah peradaban bukan hanya pada pembangunan fisiknya, tetapi sejauh mana ia mampu memastikan tidak ada satu pun kelompok yang tertinggal. Muhammadiyah harus terus menjadi pelopor peradaban inklusif yang membuka ruang partisipasi bagi semua, termasuk saudara-saudara difabel. Mereka bukan objek pelayanan, melainkan subjek yang memiliki kemampuan, pengalaman, dan kontribusi besar bagi kemajuan umat dan bangsa,” kata Dedi.
Ia juga mengungkapkan MPKS PP Muhammadiyah bersama berbagai pihak saat ini tengah merampungkan panduan pelayanan dan pemberdayaan difabel. Dokumen tersebut diharapkan menjadi acuan bagi seluruh struktur Persyarikatan dan Amal Usaha Muhammadiyah dalam menghadirkan layanan yang semakin aksesibel dan inklusif.
Difabel Butuh Kesempatan, Bukan Belas Kasihan
Sunarto, yang juga menjadi pembaca Alqur’an Braille pada pembukaan acara ini, menyampaikan rasa syukurnya atas terselenggaranya pengajian tersebut.
“Bagi kami yang tuna netra, pengajian seperti ini sangat penting. Selain memperkuat pemahaman agama, kegiatan ini memberi ruang perjumpaan dan saling menguatkan. Kami merasa dihargai dan diakui sebagai bagian dari keluarga besar Muhammadiyah. Yang kami butuhkan bukan belas kasihan, melainkan kesempatan yang setara untuk belajar, beribadah, dan berkontribusi,” ungkap Sunarto.
Sementara itu, Sekretaris MPKS PP Muhammadiyah, Jasra Putra, menegaskan gerakan inklusi bagi penyandang difabel telah lama menjadi bagian dari perjalanan Muhammadiyah. Berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah telah mengembangkan pusat layanan disabilitas, riset, pendidikan inklusif, hingga pendampingan komunitas difabel.
Di sektor kesehatan, sejumlah rumah sakit Muhammadiyah mulai mengembangkan pelayanan yang lebih ramah difabel. Sedangkan di bidang pendidikan, banyak sekolah dan perguruan tinggi Muhammadiyah yang telah membuka akses belajar bagi peserta didik dan mahasiswa penyandang disabilitas.
Selain itu, Muhammadiyah melalui MPKS, HIDIMU, dan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah terus memperkuat advokasi hak-hak penyandang disabilitas, pemberdayaan ekonomi, pengembangan kepemimpinan difabel, serta peningkatan akses terhadap layanan sosial dan keagamaan.
Dakwah Inklusi sebagai Wujud Islam Berkemajuan
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa Islam mengajarkan penghormatan terhadap kemanusiaan tanpa diskriminasi.
Menurutnya, masyarakat yang berkemajuan adalah masyarakat yang mampu merangkul kelompok rentan dan memastikan seluruh warga memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Penyandang difabel, lanjutnya, bukan kelompok yang harus dipinggirkan, melainkan bagian penting dari kekuatan bangsa. Karena itu, membangun lingkungan yang inklusif bukan hanya menjadi tugas kaum difabel, melainkan tanggung jawab seluruh warga Persyarikatan.
Melalui Pengajian Ahad ini, HIDIMU kembali menunjukkan bahwa dakwah inklusi bukan sekadar wacana, tetapi gerakan nyata yang terus tumbuh dan berkembang di lingkungan Muhammadiyah.
Dukungan seluruh warga Persyarikatan diharapkan semakin memperkuat langkah HIDIMU dalam menghadirkan Muhammadiyah yang berkemajuan, berkeadilan, dan ramah bagi semua.
“Tidak ada seorang pun yang tertinggal dalam dakwah Islam Berkemajuan. Ketika ruang-ruang ibadah, pendidikan, dan sosial dapat diakses semua orang, di situlah peradaban inklusif Muhammadiyah benar-benar menemukan maknanya,” pungkas Haedar. (*)









