Kemendikdasmen Salurkan Rp2 Triliun untuk Revitalisasi Ribuan Sekolah Terdampak Bencana di Aceh dan Sumatra

Penulis: 
Kemendikdasmen terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara

JAKARTA, KYAIMENTERI.ID — Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus mempercepat pemulihan layanan pendidikan pascabencana hidrometeorologi yang melanda Provinsi Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara. Bencana tersebut berdampak luas terhadap ribuan satuan pendidikan, ratusan ribu peserta didik, serta guru dan tenaga kependidikan di wilayah terdampak.

Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal (Dirjen PAUD Dikdas PNFI) Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menyampaikan saat ini sebanyak 31 sekolah relokasi yang telah melakukan Perjanjian Kerja Sama (PKS) tengah dikerjakan oleh TNI Angkatan Darat (TNI AD).

“Secara keseluruhan, masih terdapat 66 sekolah yang harus direlokasi dan belum melakukan PKS karena masih dalam tahap koordinasi penyediaan lahan dengan pemerintah daerah. Dari 66 sekolah tersebut, 23 sekolah belum tersedia lahannya, 16 sekolah masih dalam proses pengurusan lahan, dan 27 sekolah lainnya telah tersedia lahannya namun masih menunggu dokumen legalitas lahan dikirimkan oleh pemerintah daerah kepada Kemendikdasmen,” ujar Gogot Suharwoto di Jakarta, Jumat (29/5/2026).

Berdasarkan data Kemendikdasmen, sebanyak 4.922 satuan pendidikan terdampak bencana. Kondisi tersebut memengaruhi layanan pembelajaran bagi sekitar 707.161 peserta didik serta aktivitas 59.620 guru dan tenaga kependidikan (GTK).

Karena itu, percepatan revitalisasi sekolah, penyediaan ruang kelas darurat, hingga bantuan bagi GTK menjadi bagian penting dalam upaya pemulihan pendidikan di daerah terdampak.

Kemendikdasmen juga terus mempercepat penyaluran bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan untuk sekolah terdampak bencana. Hingga 25 Mei 2026, tercatat sebanyak 3.101 sekolah telah melakukan PKS revitalisasi dengan total nilai bantuan mencapai Rp2,9 triliun.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.033 sekolah telah menerima penyaluran dana tahap pertama sebesar 70 persen dengan total mencapai Rp2 triliun.

Sebanyak 2.834 sekolah melaksanakan revitalisasi secara swakelola, sementara 267 sekolah dengan kategori rusak berat dan/atau relokasi dikerjakan oleh TNI AD. Selain itu, terdapat 68 sekolah lainnya yang masih dalam proses penyaluran dana bantuan senilai Rp31,7 miliar.

Adapun progres pembangunan revitalisasi menunjukkan perkembangan bertahap. Dari 3.033 sekolah penerima dana tahap pertama, sebanyak 28 sekolah telah mencapai progres fisik di atas 70 persen, 223 sekolah berada pada progres 51–70 persen, 574 sekolah pada progres 31–50 persen, dan 2.208 sekolah masih berada di bawah 30 persen.

Kemendikdasmen menargetkan sebanyak 311 sekolah dapat selesai 100 persen sebelum dimulainya tahun ajaran 2026/2027 pada Juli 2026.

Selain revitalisasi sekolah, bantuan khusus juga telah disalurkan kepada guru dan tenaga kependidikan terdampak bencana. Dari total 59.270 GTK terdampak, sebanyak 52.513 GTK telah menerima bantuan dengan total anggaran lebih dari Rp315 miliar.

Langkah percepatan revitalisasi dan bantuan pendidikan tersebut diharapkan dapat memastikan proses belajar mengajar di wilayah terdampak bencana tetap berjalan serta mendukung pemulihan pendidikan secara bertahap dan berkelanjutan.

Hasil revitalisasi sekolah ditargetkan selesai di bulan Juni mendatang, sehingga para murid sudah bisa menggunakan ruang kelas pada tahun ajaran baru 2026/2027

Progres Revitalisasi di Aceh Tamiang dan Pidie Jaya
Di Kabupaten Aceh Tamiang, revitalisasi di Sekolah Luar Biasa Negeri (SLBN) Pembina Aceh Tamiang terus dikebut. Ditargetkan hasil revitalisasi ini selesai di bulan Juni mendatang, sehingga para murid sudah bisa menggunakan ruang kelas pada tahun ajaran baru 2026/2027.

“Untuk saat ini proges revitalisasi sudah sampai 24,4 persen. Kami menargetkan di bulan Juni sudah bisa menyelesaikan pembangunan. Sejauh ini proses pengerjaan tinggal pekerjaan pasang keramik, plafon, mengecat, serta pasang kusen. Pekerjaan yang paling berat kemarin adalah membuang lumpur dan menimbun balik lumpurnya,” kata Kepala SLBN Pembina Aceh Tamiang, Supranata.

Banjir bandang yang terjadi akhir November 2025 lalu menyebabkan seluruh bangunan kelas dan area sekolah SLBN Pembina Aceh Tamiang tertutup lumpur dengan ketinggian rata-rata mencapai lutut orang dewasa. Timbunan lumpur dalam waktu lama membuat lantai rusak parah. Selain itu, banjir juga memporak porandakan atap bangunan sekolah karena ketinggian air saat itu mencapai lebih dari tiga meter.

Untuk mempercepat pekerjaan, pihaknya mengerahkan 50 orang pekerja yang sebagian besar berasal dari Tamiang dan pekerja lainnya dari Kabupaten Langkat, Sumatra Utara.

Meski revitalisasi sekolah masih berlangsung, namun kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

“Kami terus kebut pembangunan ini agar selesai tepat waktu di bulan Juni. Sambil menunggu proses revitalisasi, pembelajaran di sekolah masih memanfaatkan tiga ruang kelas darurat (RKD), gedung keterampilan, dan mushola. Puji syukur dengan jam waktu belajar yang sudah kami atur, aktivitas belajar mengajar anak-anak tidak terganggu,” ucapnya.

Sementara itu, di Kabupaten Pidie Jaya, pembangunan ruang kelas baru (RKB) di SMK Ummul Ayman juga menunjukkan kemajuan yang signifikan. Kepala SMK Ummul Ayman, Faisal, menyebut progres pembangunan ruang kelas baru telah mencapai hampir 50 persen.

Selama proses pembangunan berlangsung, seluruh siswa memanfaatkan bangunan Sekolah Tinggi Ilmu Syariah yang berada dalam satu kompleks dengan sekolah untuk kegiatan belajar mengajar.

“Kebetulan bangunannya tinggi, jadi tidak terlalu terdampak banjir dan baFaisal mnyak ruangan kelas. Jadi, kami manfaatkan bangunan ini beserta ruang kelas darurat yang telah dibangun oleh Kemendikdasmen,” terang Faisal.

Faisal menambahkan progres pembangunan lainnya, seperti ruang praktik murid sudah mencapai 38 persen. Secara keseluruhan, progres pembangunan revitalisasi di SMK Ummul Ayman mencapai 29 persen.

“Beberapa pembangunan lain masih berprogres seperti toilet, ruang administrasi. Kami terus usahakan percepatan agar bisa kita pakai untuk tahun ajaran baru, khususnya untuk ruang kelas baru,” jelasnya.

Melihat progres pembangunan di sejumlah sekolah terdampak bencana, Direktur Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus (Dirjen Dikmen Diksus), Tatang Muttaqin, mengatakan Kemendikdasmen terus berkomitmen untuk menghadirkan lingkungan belajar yang aman dan layak pada tahun ajaran mendatang.

Selain mempercepat revitalisasi satuan pendidikan, Kemendikdasmen juga menyediakan ruang kelas darurat sebagai solusi sementara agar proses pembelajaran tetap berlangsung selama pembangunan belum selesai.

Menurut Tatang, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemulihan layanan pendidikan di wilayah terdampak bencana sekaligus memberikan harapan baru bagi warga sekolah.

“Revitalisasi untuk sekolah terdampak bencana ini merupakan bagian dari tahap pemulihan pembelajaran yang harapannya sudah bisa digunakan pada tahun ajaran baru. Meskipun belum bisa penuh 100 persen karena tingkat kerusakan bangunan yang beragam, kami terus berupaya untuk memastikan seluruh murid dapat belajar dalam lingkungan yang aman dan layak pada tahun ajaran baru. Termasuk penyediaan ruang kelas darurat yang bersifat sementara di saat pembangunan belum selesai,” pungkas Dirjen Tatang. (*)

Bagikan Tulisan Ini