LOMBOK TIMUR, KYAIMENTERI.ID – Seluruh satuan pendidikan (sekolah) di wilayah Nusa Tenggara Barat (NTB), termasuk daerah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar), diminta memastikan pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) berlangsung objektif, profesional, dan akuntabel.
Hal itu sebagaimana termaktub dalam Surat Edaran Nomor 400.3/1666.UM/05/DIKPORA/2026 tentang Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang Bebas Pungli dan Gratifikasi yang diterbitkan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Dis Dikpora).
“Kami menegaskan seluruh pihak yang terlibat dalam pelaksanaan SPMB dilarang melakukan pungutan di luar ketentuan, menerima gratifikasi, maupun melakukan praktik percaloan dan titipan,” ujar Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Kadis Dikpora) NTB, Syamsul Hadi melalui keterangan tertulisnya yang diterima redaksi Kyaimenteri.id pada Minggu (17/5/2026).
Syamsul Hadi menegaskan, seluruh pelaksanaan SPMB harus menjunjung prinsip integritas, profesionalitas, dan akuntabilitas sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.
“Seluruh proses SPMB harus dilaksanakan secara terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat,” katanya.
Ia juga meminta seluruh satuan pendidikan memasang imbauan SPMB bebas pungli dan gratifikasi di lingkungan sekolah sebagai bentuk transparansi kepada masyarakat.
Selain itu, kepala sekolah diminta melakukan pengawasan internal secara optimal agar seluruh panitia memahami dan menjalankan ketentuan sesuai aturan yang berlaku.
Kepala SDN 1 Puncak Jeringo, Kabupaten Lombok Timur, Agus Setiawan mengatakan, sekolahnya telah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan pelaksanaan SPMB berjalan lancar dan tertib.
Persiapan dilakukan melalui koordinasi bersama seluruh guru dan tenaga kependidikan.
“Alhamdulillah, sekolah kami sudah siap melaksanakan SPMB tahun ini. Kami telah mengadakan rapat bersama seluruh rekan guru, membentuk kepanitiaan, membagi tugas masing-masing, serta menyepakati teknis pelaksanaan dan strategi promosi untuk meningkatkan jumlah peserta didik baru tahun ini,” ujarnya.
Agus menuturkan, koordinasi menjadi sangat penting karena di lingkungan sekolah terdapat jenjang SD dan SMP Negeri Satu Atap.
Tahun ini, sekolah juga berencana membuka layanan PAUD (Pendidikan anak Usia Dini) Satu Atap guna memperluas akses pendidikan bagi masyarakat.
“Saya sudah dua kali melakukan koordinasi dengan Dinas Pendidikan, karena insyaAllah tahun ini sekolah kami berencana mulai membuka jenjang PAUD Satu Atap di lingkungan sekolah. Hal ini menjadi langkah dan harapan besar bagi kami untuk menghadirkan layanan pendidikan yang lebih lengkap dan berkelanjutan,” tutur Agus.
Tak hanya itu, Agus mengungkapkan, dalam menyukseskan SPMB, sekolahnya melakukan sosialisasi secara langsung maupun melalui media sosial.
Sekolah juga menegaskan komitmen menjaga proses penerimaan peserta didik baru berlangsung transparan.
“Kami berkomitmen untuk menjaga proses SPMB tetap transparan dan memastikan tidak ada praktik gratifikasi dalam bentuk apa pun di sekolah kami, sehingga masyarakat dapat merasa nyaman dan percaya terhadap pelaksanaan penerimaan peserta didik baru tahun ini,” tegas Agus.
Ia menambahkan, sekolah juga akan mengundang orang tua murid dalam kegiatan sosialisasi program sekolah dan pelaksanaan SPMB.
Tanpa terkecuali, strategi jemput bola dilakukan dengan mendatangi langsung rumah calon peserta didik usia sekolah.
“Langkah ini kami lakukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang jelas tentang program sekolah serta semakin yakin untuk menyekolahkan putra-putrinya di sekolah kami,” jelasnya.
Meskipun demikian, para guru dan pihak sekolah tetap optimis pelaksanaan SPMB dapat berjalan baik melalui penguatan sosialisasi dan kerja sama seluruh pihak.
Agus berharap pelaksanaan SPMB tahun ini mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sekolah.
“Harapan kami pada pelaksanaan SPMB tahun ini semoga sekolah kami dapat memperoleh peserta didik baru sesuai dengan target yang telah ditetapkan, serta semakin banyak orang tua yang mempercayakan pendidikan anak-anaknya di sekolah kami,” tuturnya.
Hal senada diungkapkan Guru SDN Tangkampulit, Kabupaten Sumbawa, Yan Aryani.
Ia mengungkapkan keterlibatan guru dalam persiapan SPMB cukup besar, terutama dalam sosialisasi dan pendampingan administrasi kepada masyarakat.
“Guru dilibatkan cukup aktif dalam persiapan SPMB, terutama dalam sosialisasi kepada orang tua dan masyarakat, pendampingan pengisian berkas, serta membantu memastikan calon peserta didik memahami alur pendaftaran,” katanya.
Menurut Yan, di daerah 3T, peran guru menjadi sangat penting karena masih ada masyarakat yang membutuhkan pendampingan langsung terkait informasi dan administrasi SPMB.
Ia menyampaikan jika secara umum masyarakat menyambut baik pelaksanaan SPMB tahun ini karena dinilai lebih terbuka dan terarah.
Sekolah juga berupaya memberikan pelayanan optimal agar orang tua merasa terbantu selama proses pendaftaran.
“Secara umum, masyarakat dan orang tua memberikan respons yang positif karena pelaksanaan SPMB dinilai lebih terbuka dan terarah. Di tempat kami, sekolah juga sudah berupaya memfasilitasi pelaksanaan SPMB dengan optimal, sehingga orang tua merasa terbantu selama proses pendaftaran berlangsung,” katanya.
Ia menambahkan, walaupun sejumlah orang tua masih menghadapi kendala teknis, terutama terkait administrasi dan pemahaman jalur penerimaan.
Karena itu, komunikasi antara sekolah dan wali murid dinilai tetap menjadi faktor penting.
“Beberapa wali murid masih menyampaikan kendala terkait pemahaman teknis administrasi dan kelengkapan dokumen yang diperlukan saat pendaftaran. Selain itu, ada juga orang tua yang masih membutuhkan penjelasan lebih lanjut mengenai jalur penerimaan dan tahapan seleksi agar tidak terjadi kesalahpahaman selama proses SPMB berlangsung,” jelas Yan.
Pernyataan yang sama disampaikan Guru SDN 1 Puncak Jeringo, Kabupaten Lombok Timur, Marwah.
Ia mengatakan, seluruh pendidik di sekolahnya dilibatkan dalam proses SPMB, mulai dari verifikasi dokumen hingga penginputan data.
“Semua pendidik dilibatkan dalam verifikasi dokumen, sosialisasi ke orang tua, dan penginputan data Dapodik,” ungkapnya.
Marwah menilai pelaksanaan SPMB di daerahnya berjalan semakin transparan dan mendapat respons cukup baik dari masyarakat.
Namun, tantangan tetap ada, terutama persaingan antar sekolah dalam mendapatkan peserta didik baru.
“Responsnya cukup baik karena pendaftaran di daerah kami lebih transparan. Tapi ada juga persaingan yang kami hadapi di daerah 3T,” pungkasnya.
Namun, di tengah tantangan geografis wilayah 3T di NTB, para guru tak hanya sibuk mengajar di ruang kelas.
Pada musim pelaksanaan SPMB tahun ini, mereka turun langsung mendampingi orang tua dan calon peserta didik agar proses pendaftaran berjalan lancar, transparan, dan bebas pungutan liar (pungli).









