148 Siswa Ikuti Seleksi FTBI Kecamatan Tunjungan Blora

Penulis: Gunawan Trihantoro | Editor: Eko Budi Utomo
Siswa di Kecamatan Tunjungan mengikuti seleksi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), senin 24 Agustus 2026

BLORA, KYAIMENTERI.ID – Sebanyak 148 siswa dari 33 sekolah ambil bagian dalam seleksi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) tingkat Kecamatan Tunjungan.

Kegiatan yang digelar di SDN 2 Tutup, Senin (24/8), itu menjadi ruang bagi siswa untuk menunjukkan kemampuan berbahasa dan bersastra daerah.

Seleksi FTBI digelar rutin setiap tahun.

Para peserta beradu kemampuan dalam tujuh cabang lomba, yakni nulis lan moco aksara Jawa, dongeng, sesorah, nulis cerkak, moco geguritan, nembang macapat, dan ndagel ijen.

Ketua Panitia FTBI Noviarinta Susilowati mengatakan, para juara pertama dari setiap cabang lomba akan mewakili Kecamatan Tunjungan pada seleksi tingkat kabupaten.

Siswa di Kecamatan Tunjungan mengikuti seleksi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), senin 24 Agustus 2026
Siswa di Kecamatan Tunjungan mengikuti seleksi Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI), senin 24 Agustus 2026

“Juara pertama dari setiap jenis lomba akan mewakili Kecamatan Tunjungan pada seleksi tingkat kabupaten,” ujarnya.

Menurut Noviarinta, berbagai cabang lomba tersebut tidak hanya menguji kemampuan berbahasa dan bersastra.

Peserta juga dituntut berani tampil, kreatif, serta mampu menunjukkan kecintaan terhadap budaya daerah.

Penanggung jawab kegiatan Tunggal Rizki Susiawanti mengatakan, FTBI menjadi salah satu upaya meningkatkan minat generasi muda terhadap bahasa daerah. Sekaligus menumbuhkan kesadaran untuk menjaga dan mengembangkannya.

“Bahasa daerah merupakan warisan budaya bangsa yang perlu dijaga dan dikembangkan melalui keterlibatan generasi muda,” kata Tunggal.

Dia menambahkan, FTBI juga menjadi bagian dari upaya revitalisasi bahasa daerah.

Kegiatan tersebut membuka ruang bagi murid dan guru untuk mengembangkan kreativitas melalui bahasa dan sastra daerah.

Tunggal berharap kegiatan tersebut dapat memperkuat peran generasi muda sebagai penerus bahasa ibu. Bukan sekadar mampu menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaganya agar tetap hidup.

“Harapannya, generasi muda tidak hanya mampu menggunakan bahasa daerah, tetapi juga memiliki kesadaran untuk menjaga dan mewariskannya,” ujarnya.

Bagikan Tulisan Ini